PPTQ Al- Furqon Magelang Putri Bertauhid Sholihah Hafidzoh

SETIAP HAMBA DALAM KEADAAN TAK TAHU ARAH

Ya Allah, kami benar benar tak tahu arah, Tunjukilah kami pada jalan-Mu yang lurus

Kita sebagai hamba sesungguhnya dalam keadaan tidak tahu arah

Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan dari Allah ‘azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman:

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِى أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِى أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِى أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِى فَتَنْفَعُونِى يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ يَا عِبَادِى إِنَّمَا هِىَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezholiman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezholiman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi.

Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.

Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah orang yang lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka hendaklah kalian minta makan kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Wahai hamba-Ku, kalian semua asalnya telanjang, kecuali yang telah Aku beri pakaian, maka hendaklah kalian minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberinya.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membinasakan-Ku dan kalian tak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.

Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya inilah amal perbuatan kalian. Aku catat semuanya untuk kalian, kemudian Kami akan membalasnya.

Maka barang siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur kepada Allah dan barang siapa mendapatkan selain dari itu, maka janganlah sekali-kali ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri”. (HR. Muslim no. 6737)

Keutamaan Hadits Di Atas

Dalam lanjutan lafazh hadits di atas

قَالَ سَعِيدٌ كَانَ أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِىُّ إِذَا حَدَّثَ بِهَذَا الْحَدِيثِ جَثَا عَلَى رُكْبَتَيْه

Sa’id berkata bahwa dulu ketika Abu Idris Al Khowlaniy (yang meriwayatkan hadits ini) jika dia membacakan hadits ini dia langsung tersungkur untuk berlutut.

Kami katakan : Suatu pelajaran penting dari kisah ini. Lihatlah bahwa para salaf dahulu, hati-hati mereka lebih terpengaruh dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kandungannya yang sangat mendalam dan begitu mengena. Mereka tidaklah terpengaruh dengan cerita-cerita bualan dan fiktif seperti kebiasaan orang saat ini. Orang-orang saat ini hanya bisa terpengaruh jika membaca novel yang menyedihkan yang sebenarnya ditulis atas dasar bualan. Dan inilah tipu daya iblis terhadap mereka. Novel-novel saat ini membuat mereka menjauh dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta jalan hidup salaf (generasi terbaik umat ini) yang sebenarnya penuh dengan lautan ilmu dan terdapat kisah-kisah/pelajaran-pelajaran yang amat menyentuh hati. Tetapi saat ini banyak yang melalaikannya. Hati siapakah yang rusak? Hati ulama terdahulu ataukah orang saat ini?

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad [47] : 24)

Allah Mengharamkan Tindak Zholim

Dalam hadits ini, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا

“”Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezholiman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezholiman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi.”

Berikut adalah perkataan Syaikh Abdul Muhsin dalam Fathul Qowi Al Matin fi Syarhi Arba’in.

“Kezholiman adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Allah telah mengharamkan kezholiman atas dirinya dan menghalanginya dari dirinya. Padahal Allah itu memiliki qudroh (kemampuan), namun tidak ada kezholiman dari Allah selamanya. Hal ini disebabkan kesempurnaan keadilan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ

Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghofir [40] : 31)

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.” (QS. Fushilat [41] : 46)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun.” (QS. Yunus [10] : 44)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah.” (QS. An Nisa’ [4] : 40)

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا

Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (QS. Thoha [20] : 112). Maksudnya adalah tidak perlu takut (gusar) dengan kebaikan yang berkurang ataupun kejelekan yang bertambah atau pula akan ditimpakan kejelekan dari orang lain.

Ayat-ayat di atas dijelaskan tentang dinafikannya (ditiadakannya) kezholiman dari Allah Ta’ala, maka ini mengandung adanya penetapan sifat keadilan yang sempurna dari Allah Ta’ala.

Ibnu Rojab –Al Hambali- dalam Jami’ul Ulum wal Hikam berkata,

وكونُه خَلَقَ أفعالَ العباد وفيها الظلم لا يقتضي وصفه بالظلم سبحانه وتعالى، كما أنَّه لا يُوصف بسائر القبائح التي يفعلها العباد، وهي خَلْقُهُ وتقدِيرُه، فإنَّه لا يُوصَف إلاَّ بأفعاله، لا يوصف بأفعال عباده، فإنَّ أفعالَ عباده مخلوقاته ومفعولاته، وهو لا يوصف بشيء منها، إنَّما يوصف بما قام به مِن صفاته وأفعاله، والله أعلم

“Allah menciptakan perbuatan hamba, di dalamnya terdapat suatu bentuk kezholiman yang dilakukan oleh hamba tersebut, maka ini tidaklah berarti Allah juga bersifat zholim. Sebagaimana Allah juga tidak disifati dengan sifat-sifat jelek lainnya yang dilakukan oleh hamba, walaupun setiap perbuatan hamba adalah makluk dan takdir (ketetapan) Allah. Allah tidaklah disifati kecuali dengan perbuatan-Nya saja dan tidak disifati dengan perbuatan hamba-Nya. Setiap perbuatan hamba adalah makhluk dan ciptaan-Nya. Namun, Allah tidaklah disifati dengan sesuatu dari perbuatan hamba tersebut. Allah hanyalah disifati dengan sifat dan perbuatan yang Dia melakukannya sendiri. Wallahu a’lam.”

Dalam hadits ini Allah telah mengharamkan hamba-Nya untuk berbuat zholim. Maka janganlah seseorang menzholimi dirinya sendiri ataupun menzholimi orang lain.” –Inilah nukilan dari Fathul Qowi

Semua Hamba dalam Keadaan Tak Tahu Arah

Dalam lanjutan hadits ini, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِى أَهْدِكُمْ

“Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.”

Dinukil dari Fathul Qowi, Ibnu Rojab –Al Hambali- berkata dalam Jami’ul Ulum wal Hikam.

“Sebagian orang mungkin ada yang mengatakan bahwa hadits ini bertentangan dengan hadits ‘Iyadh bin Himar di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ

Aku menciptakan hamba-Ku dalam keadaan berada di jalan yang lurus.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lainnya dikatakan, “Dalam keadaan muslim lalu setan mengalihkannya dari jalan yang lurus.”

Hal ini tidaklah demikian. Tetapi yang dimaksudkan adalah bahwa Allah menciptakan Bani Adam (keturunan Adam) dalam keadaan menerima Islam dan condong kepadanya, bukan pada yang lainnya. Namun, setiap orang tidaklah bisa tetap dalam fitroh ini kecuali dengan adanya kekuatan. Yaitu seseorang harus mempelajari Islam. Karena seseorang sebelum belajar, dia berada dalam keadaan jahil (bodoh), tidak mengetahui apa-apa, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun” (QS. An Nahl [16] : 78)

Allah juga mengatakan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang sesat , lalu Dia memberikan petunjuk.” (QS. Adh Dhuha [93] : 7). Dan yang dimaksudkan adalah ‘Dia mendapatimu dalam keadaan tidak mengetahui apa yang dia ajarkan dari Al Kitab dan Al Hikmah (kecuali dengan petunjuk-Nya, pen).

Hal ini juga semakna dengan firman Allah Ta’ala,

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu.” (QS. Asy Syuura [42] : 52)

Oleh karena itu, manusia pada asalnya dilahirkan dalam keadaan fitroh yaitu menerima kebenaran. Jika Allah memberi petunjuk pada seseorang, Allah akan memberinya sebab dengan diajarkan mengenai petunjuk. Jadilah, dia orang yang mendapatkan petunjuk dengan perbuatan setelah sebelumnya dia menjadi orang yang mendapatkan petunjuk dengan kekuatan pada dirinya (usahanya). Namun, jika Allah ingin menelantarkan seseorang, Allah akan menakdirkan baginya dengan diajarkan berbagai hal yang menyebabkan seseorang keluar dari fitroh. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap bayi yang lahir berada di atas fitrohnya. Lalu ayahnya-lah yang menjadikan dia Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Bukhari) –Inilah perkataan Ibnu Rojab-

Dalam hadits ini terdapat perintah untuk meminta hidayah kepada Allah. Hidayah di sini meliputi hidayah petunjuk berupa pemberian penjelasan ilmu[1] (hidayatu ad dalalah wal irsyad) dan hidayah taufik untuk beramal dan menerima dakwah[2] (hidayatu at tawfiq wat tasdid). (Ingatlah), kebutuhan hamba pada hidayah melebihi kebutuhannya pada makan dan minum. Sebagaimana terdapat dalam surat Al Fatihah[3]. Dalam ayat itu, kita selalu meminta kepada Allah Ta’ala hidayah yang baru dan menambahkan kita hidayah dari hidayah yang sudah ada.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan bahwa hadits ini mendorong kita untuk menuntut ilmu. Karena Allah mengatakan kita semua sesat. (Dan jalan keluarnya adalah dengan mencari ilmu, pen). Ingatlah bahwa menuntut ilmu adalah sebaik-baik amalan. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, ”Tidak ada yang dapat memalingkan orang dalam menuntut ilmu bagi yang benar niatnya.” Menuntut ilmu agama pada zaman ini tentu lebih wajib (lebih ditekankan lagi) karena tersebarnya berbagai kebodohan dan banyak yang berfatwa tanpa ilmu. (Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyyah, Syaikh Ibnu Utsaimin)

Sangat Butuh pada-Nya

Dalam lanjutan hadits ini, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِى أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِى أَكْسُكُمْ

“Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah orang yang lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka hendaklah kalian minta makan kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Wahai hamba-Ku, kalian semua asalnya telanjang, kecuali yang telah Aku beri pakaian, maka hendaklah kalian minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberinya..”

Dalam dua kalimat ini menunjukkan bahwa hamba sangat butuh kepada Rabbnya. Kebutuhan mereka kepada Rabbnya adalah dalam memperoleh rizki dan pakaian. Mereka –sebagai hamba-hamba Allah- haruslah hanya meminta kepada-Nya baik dalam masalah makanan dan pakaian. –Inilah nukilan dari Fathul Qowi

Ya Hayyu, Ya Qoyyum. Wahai Zat yang Maha Hidup lagi Maha Kekal. Dengan rahmat-Mu, kami memohon kepada-Mu. Perbaikilah segala urusan kami dan janganlah Engkau sandarkan urusan tersebut pada diri kami, walaupun hanya sekejap mata. Amin Yaa Mujibbas Sa’ilin.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


[1] Hidayah ini diberikan melalui ilmu yang diajarkan dan setiap orang bisa melakukannya.

[2] Hidayah ini hanya berada di tangan Allah semata.

[3] Yang wajib kita abaca dalam sehari sebanyak 17x.

Sumber Artikel https://rumaysho.com/977-setiap-hamba-dalam-keadaan-tak-tahu-arah.html

MARI SIAPKAN BEKAL TERBAIK SAMBUT RAMADHAN

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Hari ini telah memasuki penghujung bulan sya’ban (25 Syaban 1443 Hijriyah). Bertepatan dengan hari Senin, 28 Maret 2022. Yang berarti tidak lama lagi insyaAllah kita akan berjumpa dengan bulan penuh barokah, Ramadhan mubarok. Untuk itu hendaknya kita semua sebagai seorang muslim untuk menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menyambut bulan suci Ramadhan ini. Bulan yang mengajak kita untuk kembali menata hati, Mengasah nurani, menanam benih-benih ketakwaan dan syukur kepada Rabb seru sekalian alam.

Lalu, apa saja kah yang dapat kita persiapkan sebagai bekal menyambut bulan ramadhan? diantaranya yang pertama adalah

  1. Bekal ilmu

Bekal ini merupakan bekal yang sangat utama supaya ibadah-ibadah yang kita amalkan di bulan Ramadhan menuai manfaat,faedah,dan sesuai dengan tuntunan Al-quran dan As-sunnah.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”  (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15).

Bekal ilmu seperti apasaja kah yang dapat kita persiapkan ? diantaranya yakni bekal ilmu-ilmu dalil dalil dalam al-quran, maupun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan mengenai tuntunan ibadah puasa sampai dengan hari raya idul fitri. ilmu tentang hukum-hukum islam yang berkaitan dengan puasa, tarawih, zakat, dan lain sebagainya. Dengan mempersiapkan ilmu tersebut, dapat mencegah rusaknya puasa kita dikarenakan ketidaktahuan akan hukum puasa, karena syarat diterimanya amal selain ikhlas yaitu, mengikuti tuntunan Nabi. Selain itu jika kita tidak mengenal apa saja amalan yang di sunnahkan saat puasa, kita dapat kehilangan banyak kesempatan untuk meraih pahala-pahala amalan sunnah.

2. Perbanyak bertaubat

Para ulama menganjurkan kita semua untuk memperbanyak bertaubat dan beristighfar. Semoga di bulan Ramadhan ini, kita dapat menjadi lebih baik lagi. kejelekan yang telah lalu hendaklah kita tinggalkan dan kita ganti dengan kebaikan di bulan Ramadhan

Ingatlah bahwa syarat taubat yang dijelaskan oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14:61). Inilah yang disebut dengan taubat nashuha, taubat yang tulus dan murni. Moga Allah menerima taubat-taubat kita sebelum memasuki waktu barokah di bulan Ramadhan sehingga kita pun akan mudah melaksanakan kebaikan.

Di antara do’a untuk meminta segala ampunan dari Allah adalah do’a berikut ini:اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى

Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan) (HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719).

3. Banyak memohon kemudahan dari Allah.


Selain dua hal di atas, kita juga harus pahami bahwa untuk mudah melakukan kebaikan di bulan Ramadhan, itu semua atas kemudahan dari Allah. Jika kita terus pasrahkan pada diri sendiri, maka ibadah akan menjadi sulit untuk dijalani. Karena diri ini sebenarnya begitu lemah. Oleh karena itu, hendaklah kita banyak bergantung dan tawakkal pada Allah dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Terus memohon do’a pada Allah agar kita mudah menjalankan berbagai bentuk ibadah baik shalat malam, ibadah puasa itu sendiri, banyak berderma, mengkhatamkan atau mengulang hafalan Qur’an dan kebaikan lainnya.

Do’a yang bisa kita panjatkan untuk memohon kemudahan dari Allah adalah sebagai berikut.اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” [artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah]. (Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3:255. Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah).اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ

Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” (Ya Allah, aku memohon pada-Mu agar mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). (HR. Tirmidzi no. 3233, shahih menurut Syaikh Al Albani).

Semoga Allah menjadikan Ramadhan kita lebih baik dari sebelumnya. Marilah kita menyambut Ramadhan mubarok dengan suka cita, diiringi ilmu, taubat dan perbanyak do’a kemudahan.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Rujukan :

 https://rumaysho.com/1875-3-bekal-menyambut-ramadhan.html

 https://muslim.or.id/21425-4-bekal-untuk-menyambut-ramadhan.html


KISAH ASHABUL KAHFI

Allah Ta’ala berfirman,

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا

Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?” (QS. Al-Kahfi: 9)

Kisah ashabul kahfi merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah Ta’ala. Sangat banyak kisah dari umat terdahulu yang difirmankan Allah di dalam kitab-Nya yang mulia, Al-Qur`ânil-Karim. Dalam surat Al-Kahfi, Allah menyampaikan salah satu kisah kehidupan masa lalu. Yakni yang dikenal dengan ashhabul-kahfi, yaitu para pemuda penghuni gua, yang dikisahkan secara global.

Al-Kahfi adalah gua di gunung. Nama gua tersebut adalah Hizam (Haizam). Sedangkan Ar-Raqiim adalah papan yang tertulis nama-nama Ashabul Kahfi dan kejadian yang mereka alami, ditulis setelah masa mereka. Ar-Raqiim adalah nama gunung yang terdapat gua. Ada yang berpendapat, itu adalah nama lembah yang terdapat padanya sebuah gua. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menambah dengan keterangan, yaitu sebuah kitab, yang di dalamnya telah tertulis nama-nama dan kisah-kisah mereka, dari awal sampai akhir.

Kisah Ashabul Kahfi itu setelah masanya Nabi Isa Al-Masih. Mereka itu Nashrani. Kaum mereka itu adalah orang-orang musyrik yang menyembah berhala.

Ashabul Kahfi itu di masa raja Diqyaanus. Ashabul Kahfi itu sendiri adalah pemuda-pemuda yang merupakan putra dari para tokoh. Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:563. Para ulama juga berselisih pendapat mengenai letak gua ini. Ada yang berkata di negeri Aylah. Ada yang berpendapat di negeri Niinawa. Ada yang mengatakan di Balqa’. Ada juga yang berpendapat di negeri Ar-Ruum (Romawi). Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566.

Kisah Mereka Secara Global

Allah Ta’ala berfirman,

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.” (QS. Al-Kahfi: 10)

Allah Ta’ala memberitakan tentang para pemuda yang melarikan diri menyelamatkan agama mereka dari kaum mereka, agar tidak terfitnah, mereka menjauh dari kaumnya dan menuju sebuah gua di gunung bersembunyi dari kejaran kaumnya. Mereka mengatakan ketika memasuki gua seraya memohon kepada Allah rahmat dan kelembutan-Nya kepada mereka, “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu”, yaitu berikan kepada kami rahmat dari sisi-Mu, dengan mengasihani kami dan melindungi kami dari kaum kami. “Dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”, yaitu jadikan petunjuk sebagai hasil akhir bagi kami. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Husain bin Arthah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

“ALLOHUMMA AHSIN ‘AAQIBATANAA FIL UMUURI KULLIHAA, WA AJIRNAA MIN KHIZYID DUNYAA WA ‘ADZAABIL AAKHIROH. (artinya: Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat).” (HR. Ahmad, 4:181. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa periwayat hadits ini tsiqqah atau terpercaya kecuali Ayyub bin Maysaroh. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Hakim dan ia mensahihkannya, begitu pula Imam Adz-Dzahabi. Lihat Al-Mustadrak, 3:591. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10:181, menyatakan bahwa perawinya tsiqqah. Lihat catatan kaki Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:139).

Ditidurkan dalam Gua Sekian Tahun Lamanya

Allah Ta’ala berfirman,

فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا

Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.” (QS. Al-Kahfi: 11)

Maksudnya, Allah jadikan telinga mereka tabir yang menghalangi mereka dari mendengar, yaitu, Kami tidurkan mereka dengan tidur yang sangat pulas yang tidak bisa dibangunkan oleh suara-suara, seperti yang terjadi pada orang yang sangat kantuk dan lelap dalam tidurnya, sekalipun diterikai di telinganya, ia tidak mendengar dan tidak terbangun. “beberapa tahun” artinya tahun-tahun yang berbilang, banyak, dan lama.

Dibangunkan Setelah Tidur Sangat Panjang

Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا

Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).” (QS. Al-Kahfi: 12)

Kemudian Allah bangunkan mereka dari tidur seperti membangkitkan orang mati dari kubur mereka, agar diketahui dua golongan yang berselisih pendapat mengenai berapa lama mereka tertidur di dalam gua. Dengan perhitungan yang sangat teliti, yaitu lebih meliputi berapa lama mereka tinggal dalam gua, sehingga mereka akan mengetahui selang waktu yang Allah menjaga mereka di dalam gua tanpa makan dan minum, serta memberikan mereka rasa aman dari musuh, dengan begitu sempurnalah petunjuk mereka untuk bersyukur kepada Allah, dan hal itu menjadi tanda kekuasaan bagi mereka yang akan membuat mereka giat untuk beribadah kepada Allah.

Rincian Kisah Ashabul Kahfi

Allah Ta’ala berfirman,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13)

Ayat ini merupakan permulaan rincian kisah dan keterangannya. “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka” yakni mengakui keesaan Allah dan mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. “dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”, maksudnya adalah dengan taufik (hidayah) dan tatsbit (pemantapan dan keteguhan).

Hati Mereka Dikuatkan

Allah Ta’ala berfirman,

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran“.” (QS. Al-Kahfi: 14)

Maksudnya adalah mereka dikuatkan dengan kesabaran, mereka meninggalkan kampung halaman mereka serta meninggalkan berbagai kenikmatan demi menyelamatkan agama mereka. Mereka berdiri di hadapan raja mereka dan menyatakan kebenaran dengan tegas di hadapannya ketika kabar mereka terdengar oleh raja dan mereka diminta hadir menghadap raja. Raja bertanya kepada mereka tentang agama dan keyakinan yang mereka Yakini, maka mereka menjawab dengan benar dan bahkan mengajak raja tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena itulah dalam ayat disebutkan, “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi.” Mereka tidak menyembah Rabb selain Allah. Sebab jika mereka berbuat demikian, berarti mereka telah berbuat kebatilan, kedustaan, dan kebohongan.

Pengingkaran pada Kesyirikan Kaumnya

Allah Ta’ala berfirman,

هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al-Kahfi: 15)

Hal ini adalah isyarat bahwa orang kafir itu tidak mampu mendatangkan bukti atas apa yang mereka lakukan, yaitu beribadah kepada selain Allah, berbuat syirik. Jadi, mereka itulah orang-orang yang zalim yang menzalimi hak Allah karena mereka berdusta dan berbohong terhadap Allah. Kalau memang Allah itu Mahatinggi, maka tidak pantas bagi selain Allah punya kedudukan tinggi yang sama.

Akhirnya Mereka Mengasingkan Diri Demi Menyelamatkan Agama Mereka

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi: 16)

Yakni, jika kamu semua menyelisihi mereka denagn agama kalian, karena mereka menyembah selain Allah, maka selisihi pula (berpisahlah, tinggalkanlah mereka) dengan badan kalian. “maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu”, yakni, Allah akan membentangkan rahmat-Nya kepada kalian yang menutupi kalian dari kaum kalian yang kafir. “dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu” yang sedang kalian hadapi. Pada saat itulah, mereka keluar menghindar dari kaum mereka menuju sebuah goa kemudian tinggal di dalamnya.

Perlindungan Allah Terhadap Para Pemuda di dalam Gua

Allah Ta’ala berfirman,

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17)

Yakni, jika matahari meninggi di tempat terbitnya, maka ia condong dari gua, yaitu dari pintu gua sebelah kanan. Jika matahari terbenam, maka ia melewati mereka di sebelah kiri, yakni tidak mendekati mereka tetapi melewati.

“Sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu”, kata fajwah artinya tempat yang luas dan lega dalam gua, sehingga cukup tersedia udara yang datang dari segala penjuru tanpa tersengat matahari.

Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah“, yakni urusan mereka dan petunjuk Allah kepada mereka hingga ke gua tersebut dengan menjadikan mereka tetap hidup, serta apa yang Allah perbuat kepada mereka dari mulai matahari yang condong dan tidak mendekat sejak terbit hingga terbenam, semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang menunjukkan perhatian dan penjagaan Allah kepada mereka, serta petunjuk Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mereka berada dalam gua bertahun-tahun dan tetap seperti itu, mereka tidak makan, tidak minum, tidak ada asupan makanan yang masuk dalam waktu yang sangat lama, itulah yang menunjukkan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565)

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk”, yakni siapa yang ditunjukkan kepada kebenaran oleh Allah, maka ialah orang yang mendapat hidayah. Dalam hal ini terdapat pujian bagi para pemuda mukmin tersebut, yang telah berjihad di jalan Allah, kemudian menyerahkan diri mereka kepada-Nya, sehingga Allah bersikap lembut dan menolong mereka, menunjuki mereka untuk mencapai kemuliaan dan kekhususan dengan ayat-ayat yang luar biasa. Sesungguhnya setiap orang yang menempuh jalan orang-orang yang mendapatkan petunjuk, maka ia akan mendapatkan keberuntungan.

“Dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya”, yakni siapa yang disesatkan oleh Allah, maka pasti kamu tidak akan mendapatkan penolong baginya yang menjaganya dari kesesatan, atau memberi petunjuk kepada jalan kebenaran dan keberuntungan.

Catatan:

Hikmah masuknya matahari dalam gua pada beberapa keadaan adalah agar udara di dalam gua itu tetap baik. Demikian dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565.

Perhatian dan Perawatan Allah terhadap Para Pemuda di Dalam Gua

Allah Ta’ala berfirman,

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS. Al-Kahfi: 18)

Dan kamu mengira mereka itu” adalah pembicaraan untuk setiap orang, maksudnya, kamu mengira “mereka itu bangun” karena mata mereka terbuka.

Karena kalau tidur dalam keadaan mata mereka tertutup lama itu akan berdampak jelek. Demikian kata Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565.

Padahal mereka tidur” sangat lelap dan pulas dalam tidurnya hingga tidak ada suara yang bisa membangunkan mereka, “dan Kami bolak-balikkan mereka” yakni dalam tidur mereka “ke kanan dan ke kiri” agar tanah tidak merusak badan mereka, “sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di muka pintu gua” yakni di halaman gua atau pintu gua.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa anjing tersebut tidak masuk dalam gua, hanya meletakkan kakinya di pintu gua. Inilah bentuk adab dari anjing tersebut. Para pemuda kahfi juga sangat memuliakan anjing tersebut.

Anjing itu tidak berada dalam gua sebab malaikat tidak mau masuk dalam rumah yang ada anjing di dalamnya. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566.

Keberkahan pemuda mukmin ini melingkupi hingga anjing mereka, ia juga mengalami seperti yang mereka alami, yaitu tidur panjang dalam keadaan seperti itu.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ini adalah manfaat dari menemani orang-orang baik. Lihatlah hingga anjing ini pun selalu diingat dan memiliki kedudukan tersendiri. Karena siapa saja yang mencintai suatu kaum, ia akan bahagia bersama mereka. Kalau pada anjing saja bisa seperti itu, maka pasti berlaku pula bagi siapa saja yang mengikuti orang yang berbuat baik yang pantas dimuliakan.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566)

Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”, yakni jika kamu melihat mereka sekalipun begitu kuatnya kamu dalam melawan agar tidak lari, pasti kamu akan kalah dan lari dengan penuh ketakutan, yaitu hatimu dipenuhi rasa takut karena merkea para pemuda itu dilingkupi aura kewibawaan, sehingga tidak ada seorang pun yang melihat mereka kecuali akan ketakutan kemudian berpaling dan melarikan diri menjauh. Ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Agar tidak ada seorang pun yang mendekati atau menyentuh mereka hingga ketentuan itu sampai pada masanya, masa tidur mereka habis sesuai kehendak Allah Ta’ala, mengingat hal ini mengandung hikmah, hujjah yang kuat, dan rahmat yang luas.”

Pelajaran penting dari ayat “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”.

Ibnu Katsir rahimahullah lantas berkata,

ِأَنَّ الخَبَرَ لَيْسَ كَالمُعَايَنَة

“Berita itu tidak sama dengan melihat langsung.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:567)

Kebangkitan Mereka Setelah Tidur Panjang

Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 19)

Yakni, sebagaimana kami tidurkan mereka dengan tidur yang sangat panjang, maka kami bangunkan mereka denagn keadaan segar bugar tubuh mereka, sehat, begitu pula dengan rambut dan kulit mereka tidak ada yang berubah dari keadaan dan bentuk mereka. Hal ini sebagai pengingat akan kemahakuasaan Allah untuk menidurkan dan mematikan serta membangkitkan kembali.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Mereka bangun setelah 309 tahun.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:567)

Agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri” yakni, agar sebagian bertanya kepada yang lain dan mengetahui keadaan mereka serta apa yang diperbuat Allah terhadap mereka, sehingga mereka bisa mengambil pelajaran lalu berhujjah dengan itu untuk menunjukkan kekuasaan Allah Ta’ala, maka bertambah yakin dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada mereka.

Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)” yakni berapa lama kamu tidur di sini. “Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”, karena saat mereka masuk gua waktu itu di permulaan siang (pagi), dan Allah bangunkan mereka di akhir sore. Karena itulah mereka mengatakan sebagian hari.

“Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini)” yakni, Allah yang Maha Mengetahui urusan kalian. Sepertinya muncul keraguan pada mereka dalam hal lama tidaknya tertidur, kemudian dalam diri mereka ada bisikan (ilham) dari Allah, atau dengan indikasi-indikasi yang mereka saksikan dari keadaan mereka yang menunjukkan bahwa mereka tertidur panjang, dan berapa lamanya tidak diketahui, maka mereka serahkan kebenarannya kepada Allah. Mereka berkata, “Rabb kalian lebih mengetahui berapa lama kalian di sini.” Setelah itu mereka kembali kepada yang paling penting dalam urusan mereka, yaitu kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Mereka berkata, “Suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini” yakni ke kota tempat mereka keluar darinya, “dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik” yakni yang paling enak.

“Dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut” yakni dalam keluar dan membeli makanan serta saat kembali, maksudnya hendaknya merahasiakan dirinya sebisa mungkin, “dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun” yakni, jangan melakukan tanpa ia sadari, apa yang bisa membuka rahasia dan keberadaan kita.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا

Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya”.” (QS. Al-Kahfi: 20). Jika kalian kembali kepada agama mereka, maka pasti kalian tidak akan beruntung selamanya.

Catatan:

Mereka menyangka bahwa mereka hanya tidur sehari atau sebagian hari atau lebih dari itu. Padahal mereka telah tidur lebih dari 300 tahun. Selama itu telah berganti pemerintahan dan negeri sudah berubah. Orang-orang yang dulu sudah tiada dan berganti. Mereka menjadi terasing karena keadaan mereka berbeda dengan penduduk saat mereka bangun dan mata uang dirham yang dibawa pun berbeda. Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:568.

Lamanya ashabul kahfi tertidur dalam gua disebutkan dalam ayat,

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS. Al-Kahfi: 25). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mengenai begitu lamanya pemuda ashabul kahfi tertidur dalam gua ada faedah yang besar.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:571)

Terbongkarnya Rahasia Para Pemuda

Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا ۖ رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا

Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.” (QS. Al-Kahfi: 21)

Demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka” yakni, sebagaimana Kami tidurkan mereka kemudian kami bangunkan dalam keadaan dan bentuk semula, begitu pula Kami perlihatkan kepada mereka manusia di waktu itu, “agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya” yakni, orang-orang yang Kami berikan kesempatan melihat mereka (ashabul kahfi) yang Kami bangunkan kembali keadaan mereka sebelumnya (tidak ada yang berubah), agar mereka mengetahui bahwa janji Allah dengan hari kebangkitan setelah kematian itu benar adanya, karena keadaan para pemuda dalam tidur panjang mereka dan keadaan mereka saat terjaga, keadaan mereka tidak ubahnya adalah keadaan orang yang mati kemudian dibangkitkan lagi.

Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka” yakni, Kami pertemukan manusia di zaman itu dengan para pemuda Al-Kahfi, ketika mereka berselisih di antara mereka tentang urusan agama mereka, dan berbeda pendapat dalam hal kebangkitan, sebagian ada yang mengatakan, “Yang dibangkitkan hanyalah ruh, bukan jasad.” Sebagian lagi mengatakan, “Yang dibangkitkan adalah jasad dan ruh sekaligus. Maka Allah membangkitkan ashabul kahfi dari tidur mereka, sebagai bukti bahwa Allah membangkitkan orang-orang mati dengan jasad dan ruh mereka sekaligus.

Orang-orang itu berkata” yakni, manusia setelah melihat ashabul kahfi, mereka berbicara kepada para pemuda itu dan mereka pun menceritakan keadaan mereka yang tertidur. Setelah menceritakan itu, para pemuda ashabul kahfi itu pun meninggal dunia.

Dirikankah sebuah bangunan di atas gua mereka” yakni, di atas pintu gua, maksudnya tutuplah pintu gua itu dan biarkanlah mereka seperti keadaan semula.

Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka” sebuah ungkapan dari orang-orang yang tadi berselisih pendapat, seakan-akan mereka ingat urusan mereka (para pemuda), kemudian saling menyampaikan tentang nasab dan hal ihwal mereka serta lamanya mereka tinggal di dalam gua. Ketika mereka tidak bisa mengetahui hakikat sebenarnya, mereka mengatakan, “Rabb mereka lebih mengetahui urusan mereka”. Atau kemungkinan ini merupakan pernyataan Allah untuk membantah orang-orang yang terlalu jauh dalam membicarakan urusan pemuda ini, dari mereka yang berselisih pendapat.

“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya” yakni, mereka yang menang ketika berselisih pendapat itu, dan mereka adalah orang-orang kuat dan berpengaruh, kami akan mendirikan rumah ibadah, yakni kami akan shalat di sana untuk mendapatkan keberkahan dari para pemuda dan kedudukan mereka. Inilah syariat sebelum syariat Nabi Muhammad. Adapun pada syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Allah melaknat Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kubur para nabi dan orang saleh dari mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari, no. 1390 dan Muslim, no. 529)

Di sini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan yang mereka lakukan. Oleh karena itu, tidak boleh membangun masjid di atas kuburan berdasarkan larangan yang sangat jelas yang ada dalam masalah ini.

Berapakah Jumlah Pemuda Penghuni Gua?

Allah Ta’ala berfirman,

سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ ۗ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.” (QS. Al-Kahfi: 22)

Allah menyebutkan tiga pendapat mengenai berapakah jumlah para pemuda penghuni gua tersebut. Allah menyebutkan pendapat ketiga lalu mendiamkannya. Hal itu menunjukkan bahwa pendapat ketiga itu yang benar.

Pendapat pertama: tiga orang, yang keempat adalah anjingnya.

Pendapat kedua: lima orang, yang keenam adalah anjingnya.

Pendapat ketiga: tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya.

Pendapat pertama dan kedua disebutkan selanjutnya “sebagai terkaan terhadap barang yang gaib” menunjukkan bahwa pendapat ini tidak berdasar pada ilmu. Kemudian Allah memberikan petunjuk bahwa mengetahui jumlah mereka tidak ada manfaatnya, sehingga dalam masalah ini hendaklah kita berkata, “Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit“, yakni tidak ada yang mengetahui jumlah para pemuda penghuni gua kecuali sedikit orang yang diberitahukan oleh Allah.

Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja” yakni, jangan mendebat ahli kitab tentang ashabul kahfi kecuali perdebatan seperlunya yang tidak terlalu jauh dalam mempermasalahkannya, yaitu kisahkan saja kepada mereka apa yang Allah wahyukan kepadamu, cukup seperti itu, jangan kau tambah.

Dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka” yakni jangan bertanya kepada seorang pun dari mereka (ahli kitab) tentang kisah mereka, pertanyaan yang mengandung pengingkaran, hingga mengatakan sesuatu kemudian kamu bantah dan kamu palsukan apa yang ada padanya. Tidak pula pertanyaan orang yang minta petunjuk karena Allah telah memberikan petunjuk kepadamu dengan menurunkan wahyu kepadamu tentang kisah mereka dan apa yang berhubungan dengan jumlah serta urusan mereka. Hal ini sudah cukup bagi orang yang hendak mengetahui perihal para pemuda penghuni gua, serta mengambil pelajaran dan nasihat dari kisah mereka.

Pelajaran dari Kisah Ashabul Kahfi

  1. Pemuda lebih cepat menerima dakwah daripada yang lainnya.
  2. Iman itu bertambah dan berkurang.
  3. Hati yang beriman akan berkumpul dengan yang sama-sama beriman.
  4. Harus berani membela kebenaran dan mengungkapkannya.
  5. Diperintahkan mengasingkan diri dan berhijrah demi menyelamatkan agamanya. Namun, dianjurkan untuk tetap tinggal jika dipandang ada maslahat besar semisal untuk berdakwah.
  6. Kita diperintahkan mengambil sebab atau melakukan usaha.
  7. Kita dituntut bersikap hati-hati dan waspada.
  8. Hendaklah menghindari debat yang tidak manfaat.
  9. Tidak boleh menyingkap rahasia.
  10. Tidak mengapa memilih makanan yang paling enak dan lezat selama tidak israf (boros atau berlebih-lebihan).
  11. Dorongan untuk terus belajar dan mengkaji ilmu.
  12. Adab ketika ada ilmu yang masih samar atau masih rancu, maka diserahkan kepada yang berilmu dan berhenti pada batasannya.
  13. Dampak bahaya berusaha dicegah agar tidak mengenai kita.

Semoga bermanfaat dan mendapatkan berkah dari kisah pemuda Al-Kahfi ini.

Referensi:

  1. Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Al-Hafizh ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub.
  2. Al-Mustafad min Qashash Al-Qur’an li Ad-Da’wah wa Ad-Du’aa’. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Dr. ‘Abdul Karim Zaidan. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  3. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Al-Imam Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  4. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Sumber dan referensi

https://almanhaj.or.id/3514-pesan-moral-dari-kisah-ashhabul-kahfi-1.htmlhttps://rumaysho.com/31840-kisah-ashabul-kahfi-dan-pelajaran-penting-di-dalamnya.html

WANITA DAN SIFAT MALU

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

الإيمان بضع وستون- أو بضع وسبعون – شعبة؛ أفضلها لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان

“Iman itu ada 60 lebih (atau 70 sekian) cabang. Iman yang paling utama adalah [ucapan] Laa ilaaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, sedangkan malu termasuk cabang dari iman.”

(Shahih)-Ash Shahihah (1769). Lafazh “sab’un (70)” itu yang lebih tepat. [Bukhari: 2-Kitab Al Iman, 3-Bab Umurul Iman. Muslim: 1-Kitab Al Iman, hal. 57-58]

Sifat malu merupakan salah satu cabang keimanan. lalu, bagaimana hubungan antara wanita dengan sifat malu ? Islam sangat memperhatikan dan menempatkan para wanita sesuai dengan kedudukannya. begitupula islam telah mengatur begaimana adab-adab dalam bergaul, berpakaian, dan sebagainya yang mana didalamnya pasti terdapat maslahah (kebaikan) di balik itu semua. Dan segala yang dilarang pasti ada mafsadah (keburukan) baik mafsadah itu murni ataupun mafsadah itu lebih besar daripada maslahah yang diperoleh.

Namun sebagaimana kita lihat sebagian besar kaum hawa di masa kini yang menanggalkan sifat malunya. dengan tanpa rasa malu bergaul bebas dengan kaum adam wa naudzubillah.

Lantas bagaimanakah tatanan Islam mengenai sifat malu bagi wanita?

Maka cermatilah kisah yang difirmankan Allah berikut ini,

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا

Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (Al Qoshosh : 23-24)

Lihatlah bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. LALU BAGAIMANA DENGAN WANITA SAAT INI! Sepertinya rasa malu sudah hampir sirna …

Tidak cukup sampai di situ kebagusan akhlaq kedua wanita tersebut. Lihatlah bagaimana sifat mereka tatkala datang untuk memanggil Musa ‘alaihis salaam; Allah melanjutkan firman-Nya,

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.’” (Al Qoshosh : 25). Dengan penuh rasa malu, ia memanggil Musa. Sifat yang luar biasa …

Ayat yang mulia ini,menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq dan bersifat malu. Allah menyifati gadis wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan rasa malu dan terhormat.

Amirul Mukminin Umar bin Khoththob radiyallahu ‘anhu mengatakan,

كانت مستتَرة بكم درْعها.

“Gadis itu menemui Musa sambil menutupi wajahnya dengan lengan bajunya.” (Tafsirul Qur’anil ‘Azhiim, Ibnu Katsir). Lihat bagaimana begitu pemalunya wanita-wanita itu! Seharusnya para wanita saat ini mengambil contoh.

Maka wahai para wanita, sadarlah dari kelalaian ini. Kembalilah ke jalan Rabbmu. Janganlah kalian tertipu dengan jebakan, bujukan, dan propaganda syaithon yang ingin mengeluarkan para wanita dari sifat keasliannya.

Dan batasilah pergaulan antara ikhwan dan akhwat, jangan sampai mudah untuk bergaul bebas walaupun sudah memenuhi pakaian yang syar’i dan sudah menjadi anggota Keluarga Muslim. Dan ingatlah syaithon akan selalu menyesatkan anak Adam, sehingga perkara yang semula dianggap jelek akan dibuat samar oleh syaithon sehingga perkara yang terlarang ini (bergaul tanpa batas antara ikhwan dan akhwat) menjadi kelihatan baik dan dianggap biasa.

Ingatlah wejangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits dari Usamah bin Zaid,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tidak ada godaan yang kutinggalkan yang lebih dahsyat bagi para pria selain dari godaan para wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2741)

Rasa malu bukan hanya di tampakan dengan cara berpakaian (berhijab) saja.. Tapi rasa malu itu juga di tunjukan wanita dengan cara berjalan, cara berbicara, cara memandang, dan cara berfikirnya.. dan itu semua tidak akan bisa didapatkan kecuali dengan mempelajari dan mengimani apa yang Allah dan rasulNya perintahkan..

👤 Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan :

وَعَلَى حَسَبِ حَيَاةِ الْقَلْبِ يَكُونُ فِيهِ قُوَّةُ خُلُقِ الْحَيَاءِ. وَقِلَّةُ الْحَيَاءِ مِنْ مَوْتِ الْقَلْبِ وَالرُّوحِ. فَكُلَّمَا كَانَ الْقَلْبُأَحْيَى كَانَ الْحَيَاءُ أَتَمَّ.

“Kuatnya sifat malu tergantung kondisi hidup hatinya. Sedikitnya sifat malu disebabkan oleh kematian hati dan ruh, sehingga semakin hidup hati maka sifat malupun semakin sempurna.” (Madarij as-Salikin 2/249)

Beliau juga mengatakan :

 الْحَيَاءُ: فَيَبْعَثُ عَلَيْهِ قُوَّةُ الْمَعْرِفَةِ

“Sifat malu itu tergantung seberapa besar pengenalan dirinya terhadap Rabbnya.” (Madarij as-Salikin 2/163)

demikian semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat semoga Allah selalu membimbing kita di jalan yang benar serta selalu menjaga kita dari hilangnya sifat malu. baarakallahufiikum

SUMBER

https://rumaysho.com/1632-milikilah-sifat-malu-wahai-saudariku.html

https://rumaysho.com/1632-milikilah-sifat-malu-wahai-saudariku.html

https://rumaysho.com/1632-milikilah-sifat-malu-wahai-saudariku.html

https://rumaysho.com/1729-keutamaan-sifat-malu.html

https://shahihfiqih.com/artikel/sebab-hilangnya-rasa-malu-kebanyakan-wanita-saat-ini/

PPTQ AL FURQON MEDIA

APAKAH MASUK MASJID DISUNNAHKAN SALAM ?

Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah ditanya :

هل يُسنُّ لمن دخل مسجدًا أن يسلم؛ سواء كان فيه أحد أم لا؛ لأننا سمعنا أن من دخل المسجد لابدّ له من السلام على الملائكة‏؟‏

Apakah dianjurkan bagi orang yang masuk masjid mengucapkan salam, sama saja ada orang yang ada di masjid ataupun tidak. Karena kami mendengar bahwa orang yang masuk masjid harus mengucapkan salam kepada malaikat ?

Syaikh hafidzahullah menjawab :

داخل المسجد إذا وجد فيه أحدًا؛ فإنه يستحب له أن يسلم عليه، وإن لم يجد فيه أحدًا؛ فلا يسلم؛ لأنه لا يجد من يرد عليه السلام، ولا يجلس حتى يصلي ركعتين تحية المسجد، هذا هو المشروع في حق من دخل المسجد يريد الجلوس فيه‏.‏

Orang yang masuk masjid jika mendapati seseorang didalam masjid, maka dianjurkan baginya mengucapkan salam. Jika tidak mendapati orang didalam masjid maka hendaknya tidak mengucapkan salam. Karena dia tidak mendapati orang yang menjawab salamnya. Dan hendaknya dia tidak duduk sampai shalat dua raka’at, tahiyaul masjid. Inilah yang disyariatkan bagi orang yang masuk masjid dan ingin duduk didalamnya.

MENGUCAP SALAM KETIKA MASUK MASJID

HIDUP SEKEDAR TARIKAN NAFAS

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, kita meminta pertolongan kepada-Nya, kita meminta ampunan kepada-Nya dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kita dan dari keburukan amal-amal kita.

Barang siapa yang diberi petunjuk Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh pengikut mereka yang setia hingga akhir masa. Amma ba’du.

Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan : 

المبادرة عبدالله !! المبادرة ! فإن ما هي الأنفاس. لو قد حبست انقطعت عنكم أعمالكم التي تقربون بهاإلى الله عزوجل. رحم الله امرأ نظرلنفسه وبكى على ذنوبه ثم يقرأ هذه الآية :”[ إنمانعد لهم عدا]” ثم يبكي ويقول : آخر العدد خروج نفسك آخر العدد فراق أهلك آخر العدد دخولك في قبرك

“Segeralah beramal wahai hamba Allah. Segeralah beramal!. Kehidupan ini hanyalah beberapa tarikan napas. Seandainya itu tertahan, akan terputus amalan dari kalian, yang dengan amalan itu kalian mendekatkan diri kepada Allah. Semoga Allah merahmati seorang hamba yang melihat dirinya, ia pun menangis karena dosa-dosanya”.

Kemudian beliau membaca ayat :

اِنَّمَا نَـعُدُّ لَهُمْ عَدًّا   

“Sesungguhnya kami menghitung (datangnya hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti” (Qs. Maryam 84)

Lalu beliau pun menangis. Beliau pun mengatakan :
“Perhitungan terakhir adalah keluarnya jiwamu, perhitungan terakhir adalah perpisahan dengan keluargamu,perhitungan terakhir adalah engkau masuk kuburan.”

HIDUP HANYA SEKEDAR TARIKAN NAFAS

Shalat Istisqa (minta hujan)

Istisqa artinya meminta hujan. Dalam kamus Lisaanul ‘Arab disebutkan:

ذكر الاستسقاء في الحديث، وهو استفعال من طلب السقيا: أي إنزال الغيث على البلاد والعباد

Istisqa disebutkan dalam hadits. Arti istisqa adalah permohonan meminta as saqa, yaitu diturunkannya hujan kepada sebuah negeri atau kepada orang-orang”1

Namun di kalangan ahli fiqih, sudah dipahami jika disebut shalat istisqa, yang dimaksud adalah permohonan diturunkannya hujan kepada Allah, bukan kepada makhluk2.

Hukum Shalat Istisqa

Shalat istisqa hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan) ketika terjadi musim kering, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan hal tersebut, sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah Radhiallahu’anha:

شكا الناس إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم قحوط المطر فأمر بمنبر فوضع له في المصلى ووعد الناس يوما يخرجون فيه قالت عائشة فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بدا حاجب الشمس فقعد على المنبر فكبر صلى الله عليه وسلم وحمد الله عز وجل ثم قال إنكم شكوتم جدب دياركم واستئخار المطر عن إبان زمانه عنكم وقد أمركم الله عز وجل أن تدعوه ووعدكم أن يستجيب لكم ثم قال ( الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين ) لا إله إلا الله يفعل ما يريد اللهم أنت الله لا إله إلا أنت الغني ونحن الفقراء أنزل علينا الغيث واجعل ما أنزلت لنا قوة وبلاغا إلى حين ثم رفع يديه فلم يزل في الرفع حتى بدا بياض إبطيه ثم حول إلى الناس ظهره وقلب أو حول رداءه وهو رافع يديه ثم أقبل على الناس ونزل فصلى ركعتين فأنشأ الله سحابة فرعدت وبرقت ثم أمطرت بإذن الله فلم يأت مسجده حتى سالت السيول فلما رأى سرعتهم إلى الكن ضحك صلى الله عليه وسلم حتى بدت نواجذه فقال أشهد أن الله على كل شيء قدير وأني عبد الله ورسوله

Orang-orang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang musim kemarau yang panjang. Lalu beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan”. Aisyah lalu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ketika matahari mulai terlihat, lalu beliau duduk di mimbar. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir dan memuji Allah Azza wa Jalla, lalu bersabda, “Sesungguhnya kalian mengadu kepadaku tentang kegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak kunjung turun, padahal Allah Azza Wa Jalla telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Ia berjanji akan mengabulkan doa kalian” Kemudian beliau mengucapkan: “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. (QS. Al-Fatihah: 2-4). laa ilaha illallahu yaf’alu maa yuriid. allahumma antallahu laa ilaha illa antal ghaniyyu wa nahnul fuqara`. anzil alainal ghaitsa waj’al maa anzalta lanaa quwwatan wa balaghan ilaa hiin (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha kaya sementara kami yang membutuhkan. Maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang telah Engkau turunkan sebagai kekuatan bagi kami dan sebagai bekal di hari yang di tetapkan).” Kemudian beliau terus mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau. Kemudian beliau membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan membalik posisi selendangnya, ketika itu beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap ke orang-orang, lalu beliau turun dari mimbar dan shalat dua raka’at. Lalu Allah mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Turunlah hujan dengan izin Allah. Beliau tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika beliau melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: “Aku bersaksi bahwa Allah adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no.1173, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Ibnu Qudamah berkata: “Shalat istisqa hukumnya sunnah muakkadah, ditetapkan oleh sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan Khulafa Ar Rasyidin3

Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Para ulama telah ber-‘ijma bahwa keluar beramai-ramai untuk shalat istisqa di luar daerah dengan doa dan memohon kepada Allah untuk menurunkan hujan ketika musim kemaran dan kekeringan melanda hukumnya adalah sunnah, yang telah disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tanpa ada perbedaan pendapat diantara para ulama dalam hal ini”4

Penyebab Terjadinya Kekeringan

Sebab terjadinya kekeringan yang berkepanjangan, bencana alam serta musibah-musibah lain secara umum adalah maksiat. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy Syuraa: 30)

Selain merebaknya maksiat secara umum, banyaknya orang yang enggan membayar zakat serta banyak kecurangan dalam jual beli, menjadi penyebab khusus atas terjadinya kekeringan dan masa-masa sulit. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يا معشر المهاجرين: خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله أن تدركوهن: لم تظهر الفاحشة في قوم قطُّ حتى يعلنوا بها إلاَّ فشا فيهم الطاعونُ والأوجاعُ التي لم تكن مضت في أسلافهم الذين مَضَوا.ولم ينقصوا المكيال والميزان إلا أُخذوا بالسنين وشدة المؤونة وجَوْر السلطان عليهم. ولم يَمْنعوا زكاة أموالهم إلا مُنعوا القطرَ من السماء، ولولا البهائمُ لم يُمطروا. ولم ينقضوا عهد الله وعهد رسوله إلا سلّط الله عليهم عدوًّا من غيرهم فأخذوا بعض ما في أيديهم. وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله ويتخيروا مما أنزل الله إلا جعل الله بأسهم بينهم

Wahai sekalian kaum muhajirin, kalian akan diuji dengan lima perkara dan aku memohon perlindungan Allah agar kalian tidak ditimpa hal-hal tersebut.

  1. Ketika perbuatan keji merajalela di tengah-tengah kaum hingga mereka berani terang-terangan melakukannya, akan menyebar penyakit menular dan kelaparan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

  2. Ketika orang-orang gemar mencurangi timbangan, akan ada tahun-tahun yang menjadi masa sulit bagi kaum muslimin dan penguasa berbuat jahat kepada mereka

  3. Ketika orang-orang enggan membayar zakat, air hujan akan ditahan dari langit. Andaikata bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya hujan tidak akan pernah turun.

  4. Ketika orang-orang mengingkari janji terhadap Allah dan Rasul-Nya, Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka berkuasa atas mereka, kemudian mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka,

  5. Ketika para penguasa tidak berhukum dengan Kitab Allah dan mereka memilih selain dari apa yang diturunkan oleh Allah, Allah akan menjadikan kehancuran mereka dari diri mereka sendiri

(HR. Ibnu Maajah no.3262. Dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Ibni Maajah)

Beberapa Jenis Istisqa Kepada Allah

Memohon kepada Allah agar diturunkan hujan berdasarkan apa yang ditetapkan oleh syari’at, dapat dilakukan dengan beberapa cara:

Pertama, shalat istisqa secara berjama’ah ataupun sendirian5.

Kedua, imam shalat Jum’at memohon kepada Allah agar diturunkan hujan dalam khutbahnya. Para ulama ber-ijma’ bahwa hal ini disunnahkan senantiasa diamalkan oleh kaum muslimin sejak dahulu6. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, sebagaimana diceritakan sahabat Anas Bin Malik Radhiallahu’anhu:

أن رجلا دخل المسجد يوم الجمعة ، من باب كان نحو دار القضاء ، ورسول الله صلى الله عليه وسلم قائم يخطب ، فاستقبل رسول الله صلى الله عليه وسلم قائما ، ثم قال : يا رسول الله ، هلكت الأموال وانقطعت السبل ، فادع الله يغثنا . فرفع رسول الله صلى الله عليه وسلم يديه ، ثم قال :اللهم أغثنا، اللهم أغثنا، اللهم أغثنا . قال أنس : ولا والله ، ما نرى في السماء من سحاب ، ولا قزعة ، وما بيننا وبين سلع من بيت ولا دار . قال : فطلعت من ورائه سحابة مثل الترس ، فلما توسطت السماء انتشرت ثم أمطرت . فلا والله ما رأينا الشمس ستا

Seorang lelaku memasuki masjid pada hari jum’at melalui pintu yang searah dengan daarul qadha. Ketika itu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedang berkhutbah dengan posisi berdiri. Lelaki tadi berkata: ‘Wahai Rasulullah, harta-harta telah binasa dan jalan-jalan terputus (banyak orang kelaparan dan kehausan). Mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan!’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan: Allahumma aghitsna (3x). Anas berkata: ‘Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan tebal maupun yang tipis. Awan-awan juga tidak ada di antara tempat kami, di bukit, rumah-rumah atau satu bangunan pun”. Anas berkata, “Tapi tiba-tiba dari bukit tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan pun menyebar dan hujan pun turun”. Anas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari’” (HR. Bukhari no.1014, Muslim no.897)

Ketiga, berdoa setelah shalat atau berdoa sendirian tanpa didahului shalat. Para ulama ber-‘ijma akan bolehnya hal ini7.

Tempat Shalat Istisqa

Shalat istisqa lebih utama dilakukan di lapangan, sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah Radhiallahu’anha disebutkan:

فأمر بمنبر فوضع له في المصلى

Lalu beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang

Juga dalam hadits Abdullah bin Zaid Al Mazini:

أن النبي صلى الله عليه وسلم خرج إلى المصلى ، فاستسقى فاستقبل القبلة ، وقلب رداءه ، وصلى ركعتين

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam keluar menuju lapangan. Beliau meminta hujan kepada Allah dengan menghadap kiblat, kemudian membalikan posisi selendangnya, lalu shalat 2 rakaat” (HR. Bukhari no. 1024)

Namun boleh melakukannya di masjid, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani8 :

قوله : ( باب الاستسقاء في المسجد الجامع ) أشار بهذه الترجمة إلى أن الخروج إلى المصلى ليس بشرط في الاستسقاء

“Perkataan Imam Al Bukhari: ‘Bab Shalat Istisqa di Masjid Jami‘, menunjukkan tafsiran beliau bahwa keluar menuju lapangan bukanlah syarat sah shalat istisqa”

Waktu Pelaksanaan Shalat Istisqa

Shalat istisqa tidak memiliki waktu khusus namun terlarang dikerjakan di waktu-waktu terlarang untuk shalat9. Akan tetapi yang lebih utama adalah sebagaimana waktu pelaksanaan shalat ‘Id, yaitu ketika matahari mulai terlihat. Sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah Radhiallahu’anha disebutkan:

فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بدا حاجب الشمس

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ketika matahari mulai terlihat

Tata Cara Shalat Istisqa

Para ulama berbeda pendapat mengenai tata cara shalat istisqa. Ada dua pendapat dalam masalah ini:

Pendapat pertama, tata cara shalat istisqa adalah sebagaimana shalat ‘Id. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu:

إن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج متبذلا متواضعا متضرعا حتى أتى المصلى فلم يخطب خطبتكم هذه ، ولكن لم يزل في الدعاء ، والتضرع ، والتكبير ، وصلى ركعتين كما كان يصلي في العيد

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam berjalan menuju tempat shalat dengan penuh ketundukan, tawadhu’, dan kerendahan hati hingga tiba di tempat shalat. Lalu beliau berkhutbah tidak sebagaimana biasanya, melainkan beliau tidak henti-hentinya berdoa, merendah, bertakbir dan melaksanakan shalat dua raka’at sebagaimana beliau melakukan shalat ‘Id” (HR. Tirmidzi no.558, ia berkata: “Hadits hasan shahih”)

Tata caranya sama dengan shalat ‘Id dalam jumlah rakaat, tempat pelaksanaan, jumlah takbir, jahr dalam bacaan dan bolehnya khutbah setelah shalat10. Ini adalah pendapat mayoritas ulama diantaranya Sa’id bin Musayyab, ‘Umar bin Abdil Aziz, Ibnu Hazm, dan Imam Asy Syafi’i.

Hanya saja berbeda dengan shalat ‘Id dalam beberapa hal:

  1. Hukum. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Namun shalat istisqa berbeda dengan shalat ‘Id dalam hal hukum shalat Istisqa adalah sunnah, sedangkan shalat ‘Id adalah fardhu kifayah”. Sebagian ulama muhaqqiqin juga menguatkan hukum shalat ‘Id adalah fardhu ‘ain11.

  2. Waktu pelaksanaan. Sebagaimana telah dijelaskan.

Pendapat kedua, tata cara shalat istisqa adalah sebagaimana shalat sunnah biasa, yaitu sebanyak dua rakaat tanpa ada tambahan takbir. Hal ini didasari hadits dari Abdullah bin Zaid:

خرج النبي – صلى الله عليه وسلم – إلى المصلى فاستقبل القبلة وحول رداءه، وصلى ركعتين

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam keluar menuju lapangan. Beliau meminta hujan kepada Allah dengan menghadap kiblat, kemudian membalikan posisi selendangnya, lalu shalat 2 rakaat” (HR. Bukhari no.1024, Muslim no.894).

Zhahir hadits ini menunjukkan shalat istisqa sebagaimana shalat sunnah biasa, tidak adanya takbir tambahan. Ini adalah pendapat Imam Malik, Al Auza’i, Abu Tsaur, dan Ishaq bin Rahawaih.

Ibnu Qudamah Al Maqdisi setelah menjelaskan dua tata cara ini beliau mengatakan12 : “Mengerjakan yang mana saja dari dua cara ini adalah boleh dan baik”.


Catatan kaki

1 Lisaanul ‘Arab, 14/393

2 Syarhul Mumthi’, 5/361

3 Al Mughni, 3/334

4 At Tamhid, 17/172

5 Al Ihkam Syarh Ushulil Ahkam, Ibnul Qasim, 1/504

6 Al Ihkam Syarh Ushulil Ahkam, Ibnul Qasim, 1/504

7 Lihat Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi 6/439, Al Inshaf 5/436, Al Mughni 3/348

8 Fathul Baari, 1/582

9 Al Mughni, 3/327 – 328

10 Al Mughni 3/335, Hasyiah Ibnu Qasim Ala Ar Radhil Murbi’ 2/541, Asy Syarhul Kabir Lil Inshaf 5/411

11 Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 24/183

12 Al Mughni, 3/335 – 337

Diringkas dari kitab Shalatul Istisqa Fii Dhau-i Al Kitab Was Sunnah, karya Syaikh DR. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al Qahthani, dengan beberapa tambahan.

Penyusun: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/6851-shalat-istisqa-1.html

Kata Pengantar Kitab Tauhid

الحَمْدُ لِلَّهِ والصلاة والسلام على رسوله الأمين وعلى آله وصحبه أجمعين. أَمَّا بَعْدُ

Tidak diragukan bahwasanya tauhid adalah landasan bagi setiap amal. Amal sebesar dan sehebat apapun jika tidak dibangun di atas tauhid maka akan sia-sia dan sirna.

Namun kenyataan yang menyedihkan yang kita rasakan di negeri kita, bahwasanya masih banyak saudara kita yang belum paham tentang tauhid meskipun lisan mereka mengucapkan kalimat Tauhid “Laa ilaaha illallahu“. Buktinya, praktik-praktik kesyirikan di tanah air kita masih merajalela. Dukun masih bertebaran, dan banyak sekali jumlahnya. Bahkan hampir setiap kota, bahkan hampir setiap kelurahan ada dukun (baik dukun asli maupun dukun palsu). Masih banyak orang yang percaya kepada jimat-jimat, masih menganggap angka 13 adalah angka sial, masih memberikan sesajen ke pohon atau batu besar, masih menyembelih untuk jin atau penjaga tanah atau penguasa gunung atau penguasa sawah ladang, masih percaya pada benda-benda bertuah seperti untuk dicari keberkahannya seerti keris dan batu akik.

Diantara praktik mencari berkah bernuansa kesyirikan yang paling konyol adalah mencari berkah dari Kiyai Slamet yang ternyata adalah gelaran bagi seekor sapi yang berwarna putih, yang jika sapi tersebut keluar maka diperebutkan keberkahannya, bahkan kotorannya pun diperebutkan !?

Belum lagi kalau kita menelusuri praktik-praktik meminta-minta kepada penghuni kubur terutama penghuni kubur yang dianggap orang shalih.

Kondisi di tanah air kita semakin memburuk tatkala muncul sebagian da’i yang berusaha memperlaris kesyirikan, semakin menganjurkan kepada masyarakat untuk meminta-minta (yang mereka namakan dengan beristighotsah) kepada mayat-mayat orang shalih. Demikian juga dengan munculnya da’i-da’i dan tokoh-tokoh pluralisme yang berusaha menyatakan bahwa semua agama sama dan mengantarkan kepada surga. Mereka hendak menyamakan antara agama tauhid (yaitu agama Islam yang menyeru kepada penyembahan terhadap Allah semata) dengan agama kesyirikan seperti Nashrani (yang menyeru kepada penyembahan terhadap manusia yaitu Nabi Isa) dan Hindu (yang menyeru kepada penyembahan terhadap tiga dewa).

Oleh karena penanaman aqidah secara umum (terutama tauhid) yang kurang di tanah air maka pemikiran-pemikiran yang aneh dan menyimpang mudah untuk disambut dan diterima oleh sebagian saudara-saudara kita. Di tanah air kita sampai terjadi berulang-ulang ada yang mengaku sebagai nabi akhir zaman, dan ini sangat aneh, tapi yang lebih aneh adalah ternyata ada juga masyarakat yang percaya dan mengikutinya. Demikian juga ada yang mengaku sebagai Nabi Isa yang turun dari langit, dan ada juga yang mengaku sebagai Al-Imam Al-Mahdi.

Hal ini seluruhnya semakin menekankan bahwa mempelajari perkara tauhid (atau aqidah secara umum) adalah perkara yang sangat urgent di negeri kita. Adapun pernyataan sebagian orang yang meremehkan dakwah tauhid, yang menganggap bahwa pembahasan mengenai tauhid adalah pembahasan kuno dan kurang relevan dengan kondisi sekarang maka tentu ini adalah pernyataan yang keliru dan berbahaya, yang tentunya keluar dari orang-orang yang tidak paham tentang makna tauhid yang sesungguhnya.

Tauhid –sebagaimana yang hakikatnya disalahpahami oleh sebagian orang- bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah; bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan) Nya, dan wahdaniyah (keesaan) Nya, dan bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan Sifat-Nya. Kaum musyrikin Jahiliyah kuno yang dihadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga meyakini bahwa Tuhan Pencipta, Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta ini adalah Allah.   Demikian juga kaum Nashrani dan Yahudi juga percaya bahwa yang menciptakan alam semesta adalah Allah bukan Isa ataupun Uzair. Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka itu belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat muslim, yang bertauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mereka masih dicap oleh Allah dengan predikat musyrik. Kenapa?, karena mereka menyerahkan peribadatan tidak murni hanya untuk Allah.

Maka buku di hadapan pembaca ini mempunyai arti penting dan berharga sekali untuk mengetahui hakikat tauhid dan kemudian menjadikannya sebagai pegangan hidup.

Buku ini ditulis oleh seorang ulama yang giat dan tekun dalam kegiatan dakwah Islamiyah. Beliau adalah syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi, yang dilahirkan di ‘Uyainah, tahun 1115 H (1703 M), dan meninggal di Dir’iyyah (Saudi Arabia) tahun 1206 H (1792 M).

Keadaan umat Islam -dengan berbagai bentuk amalan dan kepercayaan- pada masa hidupnya, yang menyimpang dari makna tauhid, telah mendorong Syaikh Muhammad bersama para muridnya untuk melancarkan dakwah Islamiyah guna mengingatkan umat agar kembali kepada tauhid yang murni.

Kitab ‘Tauhid” ini membahas secara khusus tentang tauhid al-‘Ibaadah (atau yang dikenal dengan tauhid al-Uluhiyah), hal ini dikarenakan problem yang timbul di zaman penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) adalah berkaitan dengan penyimpangan masyarakat dalam bab ini. Dan hendaknya demikian para penulis tatkala menulis suatu karya berusaha untuk mencari solusi dari problematika keagamaan yang ada di zamannya. Dalam buku ini juga akan disinggung tentang tauhid ar-Rububiyah dan tauhid al-Asmaa’ wa as-Shifaat, akan tetapi bukan sebagai pokok permasalahan.

Keistimewaan kitab ini diantaranya :

  1. Kitab ini ringkas dan padat, berisi dalil al-Qur’an dan hadits, lalu diikuti dengan perkataan salaf. Oleh karenanya para ulama menyatakan bahwa metode Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sama seperti metodenya Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya.Beliau menyebutkan judul bab, lalu beliau menyebutkan dalil. Dan dalil-dalil yang beliau sebutkan secara umum mudah dipahami oleh orang awam untuk dikaitkan dengan judul bab. Karenanya kitab tauhid ini mudah untuk dipahami oleh orang awam.
  1. Kitab ini menjelaskan secara detail tentang permasalahan-permasalahan tauhid al-Uluhiyah (tauhid al-‘Ibadah) dan macam-macam kesyirikan baik syirik besar maupun syirik kecil. Dan dengan sebab inilah maka sebagian ulama menyatakan bahwa kitab tauhid yang ditulis oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah kitab yang terbaik. Hal ini dikarenakan para ulama terdahulu sebelum beliau mungkin tidak menghadapi model-model kesyirikian yang ditemui oleh beliau. ([1]) Karenanya tulisan mereka tentang perincian jenis-jenis kesyirikan tidak sedetail apa yang ditulis oleh beliau. Adapun pembahasan tauhid al-Asmaa’ wa as-Shifaat secara detail maka telah ditulis oleh para ulama sebelum beliau.Karenanya Syaikh Muhammad Abdul Wahhab menulis kitab-kitab berdasarkan kebutuhan masyarakat di zaman beliau, tentu ini berbeda dengan sebagian orang yang memang hobi menulis, menulis apa saja yang ilmiyah, dengan orang yang menulis berdasarkan kebutuhan masyarakat dan dakwah.
  2. Kitab inilah yang bisa menjelaskan dengan tepat siapa hakikat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang dituduh sebagai pendiri dakwah Wahhabiyah. Kitab inilah yang bisa menjelaskan apa itu hakikat wahhabi. Karena banyak orang yang menuduh dakwah wahhabi dengan tuduhan yang tidak-tidak sementara mereka tidak pernah membaca kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Keterangan:

[1] Tentu ada para ulama yang hidup sebelum syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang menulis tentang tauhid al-uuhiyyah serta kesyirikan-kesyirikan yang berkaitan dengannya, akan tetapi mereka menulis tidak secara khusus dan tidak secara sistematis serta tidak secara lengkap, berbeda dengan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang menulis secara khusus dan secara lengkap dan sistematis. Sebagai contoh adalah Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim rahimahullah, banyak tulisan mereka berdua yang berkaitan dengan tauhid al-uluhiyah bahkan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah menimba ilmu dari buku-buku mereka berdua, akan tetapi tulisan mereka berdua tidaklah terkumpul dalam satu tempat dan tidak tersusun secara sistematis. Demikian juga para ulama yang hidup semasa beliau atau setelah beliau juga menulis tentang tauhid al-uluhiyyah. Berikut ini diantara para ulama yang menulis buku khusus tentang tauhid al-uluhiyah.

Pertama : al-Imam al-Miqrizi (wafat tahun 845 H), salah seorang ulama bermadzhab syafi’iy. Beliau menulis sebuah buku yang berjudul تَجْرِيْدُ التَّوْحِيْدِ الْمُفِيْدُPemurnian tauhid yang bermanfaat”. Di awal buku ini beliau berkata :

كقوله تعالى: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ} ، فإنه ينفي شرك المحبّة والإلهيّة، وقوله: {وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} فإنه ينفي شرك الخلق والربوبيّة، فتضمّنت هذه الآية تجريد التّوحيد لربّ العالمين في العبادة، وأنه لا يجوز إشراك غيره معه، لا في الأفعال ولا في الألفاظ ولا في الإرادات، فالشرك به في الأفعال، كالسجود لغيره سبحانه وتعالى، والطواف بغير بيته المحرّم، وحلق الرأس عبوديّةً وخضوعًا لغيره، وتقبيل الأحجار غير الحجر الأسود الذي هو يمينه في الأرض، وتقبيل القبور واستلامها والسجود لها. وقد لعن النبي صلى الله عليه وسلم من اتّخذ قبور الأنبياء والصالحين مساجد، فكيف من اتّخذ القبور أوثانًا تعبد من دون الله؟

“Seperti firman Allah “Hanya kepadaMulah kami beribadah”, sesungguhnya ayat ini menafikan syirik mahabbah dan syirik al-uluhiyah. Dan firman Allah “Dan hanya kepadaMulah kami memohon pertolongan” menafikan syirik penciptaan dan syirik ar-rububiyah. Maka ayat ini mengandung pemurnian tauhid kepada Robbul ‘alamin dalam ibadah dan bahwasanya tidak boleh menyekutukanNya, tidak boleh syirik dalam perbuatan, dalam lafal, dan dalam kehendak/niat. Syirik dalam perbuatan seperti sujud kepada selain Allah, thawaf di selain ka’bah, mencukur gundul karena beribadah dan tunduk kepada selain Allah, mencium batu selain hajar aswad yang merupakan tangan kanan Allah di bumi, mencium kuburan, mengusapnya dan sujud kepadanya. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih sebagai masjid, maka bagaimana lagi kalau dijadikan kuburan tersebut sebagai berhala yang disembah?” (Tajriid at-Tauhiid, hal 18-19)

Beliau juga berkata :

زيارة القبور – على ثلاثة أقسام:

قوم يزورون الموتى فيدعون لهم. وهذه هي الزّيارة الشرعيّة. وقوم يزورونهم يدعون بهم، فهؤلاء هم المشركون في الألوهيّة والمحبّة. وقوم يزورونهم فيدعونهم أنفسهم، وقد قال النبي صلّى الله عليه وآله وسلّم: “اللهم لا تجعل قبري وثنا يعبد”، وهؤلاء هم المشركون في الربوبيّة

“Ziarah kuburan ada tiga macam. (Pertama) mereka yang menziarahi orang-orang yang telah meninggal lalu mendoakan mereka, dan ini adalah ziarah yang disyari’atkan. (Kedua) mereka yang menziarahi mayat-mayat tersebut lalu berdoa dengan mayat-mayat tersebut, maka mereka inilah musyrikin dalam al-uluhiyah dan kecintaan. (Ketiga) mereka yang menziarahi mayat-mayat lalu berdoa kepada mayat-mayat tersebut, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya Allah jangan Engkau jadikan kuburanku berhala yang disembah”. Maka mereka ini adalah orang-orang musyrik dalam rububiyah” (Tajriid at-Tauhiid hal 20)

Kedua : al-Imam Muhammad bin Isma’il as-Shon’aani rahimahullah (wafat tahun 1182 H), yang beliau semasa dengan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Beliau menulis sebuah buku yang berjudul تَطْهِيْرُ الاِعْتِقَادِ عَنْ أَدْرَانِ الإِلْحَادِ “membersihkan aqidah dari kotoran kekufuran”. Beliau berkata di awal kitab beliau :

فهذا (تطهير الاعتقاد عن أدران الإلحاد) وجب عليَّ تأليفه، وتعيَّن عليَّ ترصيفه؛ لِمَا رأيته وعلمته يقيناً من اتخاذ العباد الأنداد في الأمصار والقرى وجميع البلاد، من اليمن والشام ومصر ونجد وتهامة وجميع ديار الإسلام وهو الاعتقاد في القبور

“Inilah kitab “membersihkan aqidah dari ktoran-kotoran kekafiran”  wajib atas diriku untuk menulisnya, dan keharusan atas diriku untuk menyusunnya karena apa yang telah aku lihat dan telah aku ketahui dengan yakin  tentang menjadikan hamba-hamba sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah) yang terjadi di kota-kota, kampung-kampung, dan seluruh negeri, di Yaman, Syam, Mesir, Nejd, Tihamah, dan seluruh negeri Islam, yaitu keyakinan terhadap (para penghuni) kuburan”

Beliau hidup di zaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan beliau melihat dan merasakan apa yang dirasakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tentang tersebarnya kesyirikan di seluruh negeri kaum muslimin terutama penyembahan terhadap penghuni kubur.

As-Shan’ani memuji dakwah syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam qosidahnya :

سَلاَمِي عَلَى نَجْدٍ وَمَنْ حَلَّ فِي نَجْدٍ… وَإِنْ كَانَ تَسْلِيْمِي عَنِ الْبُعْدِ لاَ يُجْدِي

“Salamku bagi negeri Nejd dan juga bagi yang tinggal di Nejd…meskipun salamku dari jauh tidaklah cukup”.

Sebagian orang menisbahkan kepada As-Shan’ani sebuah qosidah yang menunjukkan bahwa beliau taroju’ (berubah pikiran) dari pujiannya tersebut, akan tetapi nisbah qosidah tersebut tidaklah benar sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syaikh Sulaiman bin Samhaan rahimahullah. Diantara bukti yang terkuat akan kedustaan taroju’ tersebut bahwasanya hal ini tidaklah muncul kecuali setelah wafatnya As-Shan’ani. Sementara As-Shan’ani wafat sekitar 20 tahun sebelum As-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kalau seandainya As-Shan’ani taroju’ maka tentu akan tersebar semasa hidup beliau. Lagi pula qosidah pujian As-Shan’ani ditulis pada tahun 1163 Hijriyah dan buku Tathirul i’tiqood ditulis pada tahun 1164 Hijriyah. Barang siapa yang menelaah kitab tathirul i’tiqood maka dia akan dapati mirip dengan kita kasyf asy-syubhatnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Ketiga : al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah (wafat tahun 1250 H), beliau hidup setelah syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau menulis sebuah buku yang berjudulشَرْحُ الصُّدُوْرِ بِتَحْرِيْمِ رَفْعِ الْقُبُوْرِ  Melapangkan dada dengan haramnya meninggikan kuburan”. Beliau menulis buku ini karena melihat bahwa meninggikan kuburan merupakan sarana kesyirikan.

Bersambung insya Allah…

Read more https://firanda.com/2074-download-penjelasan-kitab-tauhid-%d8%b4%d9%8e%d8%b1%d9%92%d8%ad%d9%8f-%d9%83%d9%90%d8%aa%d9%8e%d8%a7%d8%a8%d9%90-%d8%a7%d9%84%d8%aa%d9%91%d9%8e%d9%88%d9%92%d8%ad%d9%90%d9%8a%d9%92%d8%af%d9%90.html

Sunnah Sunnah Fitrah

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُاللهِ  صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَشْرٌ مِنَ الفِطْرَةِ : قَصُّ الشَّارِبِ، وَإعْفَاءُ اللِّحْيَةِ، وَالسِّوَاكُ، وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ، وَقَصُّ الْأظْفَارِ، وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَحَلْقُ الْعَانَةِ، وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ  قَالَ الرَّاوِيْ : وَنَسِيْتُ الْعَاشِرَةَ ،إِلاَّ أنْ تَكُوْنَ الْمَضْمَضَةُ

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sepuluh hal yang termasuk fitrah: (1) mencukur kumis, (2) memanjangkan jenggot, (3) bersiwak, (4) menghirup air ke  hidung (ketika wudhu), (5) memotong kuku, (6) mencuci ruas-ruas jari, (7) mencabut bulu ketiak, (8) mencukur bulu kemaluan, (9) bercebok.’” Perawi berkata, “Aku lupa yang kesepuluh, mungkin berkumur-kumur.”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh Muslim (no. 261); Abu Dâwud (no. 53); at-Tirmidzi (no. 2757); an-Nasa-i (VIII/126-128), dan Ibnu Mâjah (no. 293).

Dalam hadits ini terdapat râwi yang dha’îf (lemah). Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 4009) dan Hidâyatur Ruwât ilâ Takhrîji Ahâdîtsil Mashâbîh wal Misykât (no. 364) dengan beberapa syawahid (penguat)nya.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu secara marfû’, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ : اَلْخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ

Lima hal yang termasuk fitrah: (1) berkhitan, (2) mencukur bulu kemaluan, (3) memotong kuku, (4) mencabut bulu ketiak, dan (5) memotong kumis.[1]

KOSA-KATA HADITS

  • اَلْفِطْرَةُ : Berasal dari kata فَطَرَ, seperti dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ …

Setiap manusia dilahirkan di atas fitrah

Maksudnya, bahwa dia dilahirkan dengan perangai dan tabiat yang siap menerima agama. Jika dibiarkan seperti itu, maka dia akan terus berada di atas fitrah, tidak berpaling kepada yang lainnya. Adapun yang berpaling dari fitrah tersebut yaitu orang yang berpaling karena salah satu dari hal-hal yang merusak manusia dan taklid.[2]

Fitrah yaitu sifat bawaan yang ada pada segala sesuatu pada saat diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla . Fitrah merupakan tabiat yang bersih, tidak dikotori oleh aib. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allâh disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan  pada ciptaan Allâh...” [ar-Rûm/30:30]

Fitrah yang sehat (dalam istilah falsafat) yaitu kesiapan untuk mengambil hukum dan membedakan antara yang hak dan yang bathil.”[3]

Ibnu Manzhûr rahimahullah berkata, “Fitrah adalah apa-apa yang Allâh menciptakan makhluk di atas hal tersebut, yaitu mengenal Allâh.”

Abul Haitsam rahimahullah berkata, “Fitrah yaitu pembawaaan (naluri) yang Allâh ciptakan manusia di atasnya pada saat di dalam perut ibunya.”[4]

Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa fitrah ada dua macam. Pertama, fitrah yang berkaitan dengan hati, yaitu ma’rifatullâh (mengenal Allâh) dan mencintai-Nya serta mengutamakan-Nya lebih daripada yang lain. Kedua, fitrah ‘amaliyyah (perbuatan), yaitu hal-hal yang disebutkan di atas. Maka, yang pertama itu mensucikan ruh dan membersihkan hati, dan yang kedua ia membersihkan badan. Dan masing-masing dari keduanya membantu dan menguatkan yang lainnya. Dan, fitrah badan yang paling pokok adalah khitan.”[5]

  • اَلْخِتَانُ : Memotong kulit yang menutupi kepala dzakar laki-laki dan memotong kulit yang menyerupai jengger ayam yang ada berada di atas farji perempuan (kelentit/klitoris).[6]
  • اَلشَّارِبُ : Rambut yang tumbuh di atas bibir atas. Adapun rambut yang tumbuh di sebelah kiri dan kanan bibir disebut sibâl (misai).
  • اَللِّحْيَةُ : Jenggot. Para ahli bahasa mengatakan bahwa al-lihyah yaitu rambut yang tumbuh di dagu dan rambut yang tumbuh di kedua pipi (disebut cambang).
  • إِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ : Memanjangkan jenggot, yaitu tidak memotongnya sedikit pun.
  • اَلْأَظْفَارُ : Jamak (bentuk plural) dari ظُفْرٌ, yaitu kuku.
  • اَلْبَرَاجِمُ : Jamak dari بُرْجُمَةٌ, yaitu ruas-ruas jari jemari.
  • اَلْعَانَةُ : Rambut yang tumbuh di atas dan juga di sekitar kemaluan laki-laki maupun perempuan.

SYARAH HADITS
Allâh Azza wa Jalla menciptakan hamba-hamba-Nya di atas fitrah yaitu mencintai kebenaran dan mengutamakannya, serta membenci kejelekan dan menolaknya. Allâh juga menciptakan para hamba-Nya lurus dan siap menerima kebenaran, ikhlas kepada Allâh, serta mendekatkan diri kepada-Nya.

Allâh Azza wa Jalla menjadikan syari’at fitrah ada dua macam:

Pertama, Membersihkan hati dan jiwa, dengan iman kepada Allâh, dan segala hal yang menyertainya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٣٠﴾ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allâh disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan  pada ciptaan Allâh. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah shalat  dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allâh. [ar-Rûm/30:30-31]

Maka hal tersebut dapat menyucikan jiwa, membersihkan hati dan menghidupkannya, menghilangkan penyakit-penyakit yang hina darinya, serta menghiasinya dengan akhlak-akhlak yang mulia. Ini semua kembali kepada pokok-pokok iman dan amalan-amalan hati.

Fitrah yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah agama Islam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلَّا يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّوْنَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

Tidak ada satu pun anak yang lahir (di muka bumi ini) kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi, seperti seekor hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat, apakah kamu merasakan adanya cacat padanya?

Kemudian Abu Hurairah z membaca firman Allâh Azza wa Jalla :

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

(Tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu [ar-Rûm/30:30].[7]

Kedua, hal yang kembali kepada pembersihan secara zhahir dan menolak kotoran-kotoran darinya, yaitu sepuluh fitrah yang disebutkan dalam hadits di atas. Sepuluh fitrah tersebut termasuk wujud keindahan agama Islam, di mana semua hal tersebut membersihkan anggota badan, menyempurnakannya agar selalu sehat dan siap untuk setiap hal yang diinginkan darinya.

Adapun berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung, keduanya disyari’atkan dalam bersuci dari hadats kecil dan hadats besar menurut kesepakatan para Ulama. Membersihkan mulut dan hidung  adalah fardhu dalam hadats kecil dan besar, karena mulut dan hidung banyak dimasuki kotoran-kotoran, bau tak sedap, dan lainnya, sehingga harus dibersihkan dan dihilangkan kotorannya.

Adapun mencukur kumis, maksudnya yaitu merapikannya sehingga bibir tetap terlihat. Ini merupakan upaya  untuk menjaga dan membersihkan diri dari kotoran yang keluar dari hidung. Juga, jika kumis dibiarkan menjulur sampai bibir, maka akan mengenai makanan dan minuman yang masuk ke mulut.

Adapun memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencuci ruas-ruas jari (dia termasuk lipatan-lipatan badan yang banyak terkumpul kotoran padanya), maka harus dibersihkan dan dihilangkan kotoran-kotorannya. Begitu juga mencukur bulu kemaluan.

Adapun bercebok (menghilangkan atau membersihkan sisa kotoran yang keluar dari qubul dan dubur dengan air atau batu), maka itu wajib dan termasuk syarat-syarat bersuci.

Anda ketahui, bahwa semua hal tersebut dapat menyempurnakan zhahir manusia, menyucikannya, dan membersihkannya, serta menolak hal-hal yang buruk dan membahayakan. Dan bersuci itu termasuk iman.

Maksudnya, bahwa fitrah mencakup seluruh syari’at, baik secara zhahir maupun batin. Karena fitrah dapat membersihkan batin manusia dari akhlak-akhlak yang tercela lalu menghiasinya dengan akhlak-akhlak yang mulia, yang kembali kepada aqidah iman dan tauhid, ikhlas kepada Allâh, kembali kepada Allâh. Serta membersihkan zhahir manusia dari segala najis, kotoran-kotoran, dan penyebabnya, dan menyucikannya secara nyata maupun maknawi. Karenanya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اَلطُّهُوْرُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ.

Bersuci adalah sebagian dari iman.[8]

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

 “…Allâh menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” [al-Baqarah/2:222]

Syari’at seluruhnya adalah kebersihan, penyucian, mendukung pertumbuhan, penyempurnaan, anjuran kepada perkara-perkara yang mulia dan larangan dari perkara-perkara yang hina. Wallahu a’lam.[9]

Penjelasan fitrah-fitrah tersebut sebagai berikut:

1. Khitan
Khitan disyari’atkan dalam Islam, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خَـمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ : اَلْخِتَانُ ، وَالْاِسْتِحْدَادُ ، وَقَصُّ الشَّارِبِ ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ.

Ada lima hal yang termasuk fitrah: khitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kumis, meng-gunting kuku, dan mencabut bulu ketiak.[10]

Makna fitrah dalam hadits ini adalah sunnah, yakni kelima hal tersebut menjadi sunnahnya para Nabi dan Rasul yang diakhiri dengan kenabian dan kerasulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .[11]

Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Adapun khitan, maka sebagian Ulama mengatakan wajib karena ia adalah bagian dari syi’ar agama, yang dengannya diketahui seseorang itu Muslim atau kafir.”[12]

Syari’at khitan bersifat umum untuk laki-laki dan perempuan berdasarkan banyaknya riwayat tentang dikhitannya perempuan pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selanjutnya hingga hari ini.

Sebagian Ulama berpendapat bahwa khitan hanya wajib bagi laki-laki dan sunnah bagi wanita sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qudâmah al-Maqdisi rahimahullah (wafat th. 620 H), “Berkhitan diwajibkan atas laki-laki dan merupakan kehormatan bagi wanita, bukan wajib. Ini pendapat mayoritas Ulama.”[13]

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimin  rahimahullah berkata, “Pendapat yang mendekati kebenaran bahwa khitan wajib bagi laki-laki dan sunnah bagi wanita.”[14]

2. Memotong kumis
Di dalam hadits, selain menggunakan lafazh (قَصُّ) qasshu, juga disebutkan dengan lafazh (اَلْإِحْفَاءُ) al-ihfaa’, (اَلْإِنْهَاكُ) al-inhaak, (اَلْجَزُّ) al-jazz, dan (اَلْأَخْذُ) al-akhdz. Para Ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan lafazh tersebut. Sebagian berpendapat memotongnya hingga terlihat kulit. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa maksud hadits adalah berlebihan dalam memotongnya. Ada juga yang berpendapat bahwa makna lafazh tersebut adalah mutlak mencukur, namun pendapat ini lemah. Sebagian Ulama berpendapat memotong bulu kumis yang sudah menjulur ke bibir atas, sedangkan bagian atas kumis dibiarkan. Itulah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini.Allâhu a’lam.[15]

Bagi yang hendak memotong kumis, diutamakan memotong sebelah kanan dahulu, kemudian baru memotong yang sebelah kiri. Yang penting ialah seseorang wajib memotong atau merapikan kumisnya, jangan membiarkannya panjang hingga menyentuh minuman dan makanan yang ia santap, agar tidak menyerupai orang-orang Majûsi atau para pendeta dan lainnya yang mengklaim bahwa diri mereka adalah sosok seorang yang zuhud.

Adapun batas waktu yang disyari’atkan dalam memotong kumis maksimal selama empat puluh hari. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وُقِّتَ لَنَا فِيْ قَصِّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيْمِ الْأَظْفَارِ، وَحَلْقِ الْعَانَةِ، وَنَتْفِ الْإِبْطِ، أَلَّا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا

Kami diberi batasan waktu dalam mencukur kumis, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, dan mencabut bulu ketiak, tidak membiarkannya lebih dari empat puluh hari.[16]

an-Nawawi rahimahullah berkata, “Maknanya adalah jangan sampai lebih dari empat puluh hari, bukan membiarkannya selama empat puluh hari.Wallahu a’lam.”[17]

3. Memelihara jenggot
Memelihara jenggot merupakan salah satu adab yang harus dilaksanakan oleh seorang Muslim. Dalam syari’at Islam, laki-laki tidak boleh mencukur jenggotnya bahkan hukumnya haram, karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan laki-laki untuk memelihara dan memanjangkan jenggotnya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوْا اللِّحَى،خَالِفُوْا الْـمَجُوْسَ.

Rapikanlah kumis, biarkanlah jenggot, selisihilah orang Majusi.[18]

Para Ulama berbeda pendapat, “Bolehkan memendekkan jenggot atau memotongnya jika sudah melebihi satu genggam?”

Jawabannya: Wajib hukumnya memelihara jenggot, tidak boleh memotongnya. Pendapat ini sesuai dengan konteks hadits yang memerintahkan untuk memeliharanya.

Allâh Azza wa Jalla menjadikannya kewibawaan dan keindahan bagi laki-laki. Karenanya, keindahan itu akan tetap ada sampai tua dengan adanya jenggot. Sungguh heran dengan orang yang menyelisihi sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencukur jenggotnya. Bagaimana wajahnya tetap buruk karena telah hilang keindahannya, terutama ketika sudah tua. Maka dia menjadi seperti nenek tua yang hilang keindahannya ketika sudah berumur, walaupun ketika kecil dia termasuk wanita yang paling cantik. Inilah yang dirasakan. Tetapi kebiasaan-kebiasaan dan taklid buta menjadikan sesuatu yang jelek diperbagus dan sesuatu yang bagus malah diperjelek.[19]

Maka tidak boleh bagi laki-laki mencukur jenggotnya, jika dia melakukan hal tersebut, maka dia telah menyelisihi jalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan durhaka kepada perintahnya, serta terjatuh kepada penyerupaan dengan kaum musyrik dan majusi. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَالِفُوْا الْمَجُوْسَ أَوِ الْمُشْرِكِيْنَ، وَفِّرُوْا اللِّحَى وَأَحْفُوْا الشَّوَارِبَ

Selisihilah orang majusi atau orang-orang musyrik. Suburkanlah jenggot kalian dan cukurlah kumis kalian.[20]

Hadits ini menunjukkan bahwa memanjangkan jenggot –yang menyelisihi orang-orang musyrik- termasuk fitrah, maka tertolaklah syubhat orang-orang yang berkata, “Sungguh, ada orang-orang kafir zaman sekarang yang memanjangkan jenggotnya. Maka tidakkah kita sepantasnya menyelisihi mereka dengan mencukur jenggot kita?” Lihatlah, ini adalah bisikan syaithan, wal ‘iyâdzu billâh.

Kita jawab syubhat tersebut, “Sesungguhnya mereka memanjangkan  jenggot karena mengikuti fitrah. Dan kita diperintahkan untuk melakukan fitrah tersebut. Jika mereka menyerupai kita dalam fitrah ini, maka kita tidak melarang mereka dan tidak perlu menyimpang dari fitrah tersebut hanya karena mereka menyamai kita. Sebagaimana jika mereka menyamai kita dalam memotong kuku, maka kita tidak mengatakan bahwa kita harus meninggalkan memotong kuku, tetapi kita harus tetap memotongnya. Begitu juga fitrah-fitrah yang lainnya, jika orang-orang kafir menyamai kita dalam hal-hal tersebut, maka kita tidak perlu menyimpang darinya. Wallahul muwaffiq.[21]

Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata, “Mencukur jenggot bagi kaum laki-laki adalah perilaku yang buruk karena mereka seringkali meniru perilaku orang-orang kafir Eropa yang selalu mencukur jenggotnya. Mereka merasa malu jika mereka memelihara jenggot, apalagi ketika mereka menemui pengantin wanita tanpa bercukur. Dalam hal ini mereka (yang mencukur jenggotnya) telah melakukan hal-hal yang dilarang.  Di antaranya:

Pertama, Merubah ciptaan Allâh Azza wa Jalla
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

لَعَنَهُ اللَّهُ ۘ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا﴿١١٨﴾ وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

Syaitan dilaknat Allâh, dan ia berkata, ‘Aku pasti akan mengambil bagian tertentu dari hamba-hamba-Mu, dan pasti akan aku sesatkan mereka, dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan akan aku suruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, (lalu mereka benar-benar memotongnya), dan akan aku suruh mereka merubah ciptaan Allâh, (lalu mereka benar-benar merubahnya).’ Barangsiapa menjadikan syaitan sebagai pelindung selain Allâh, maka sungguh ia menderita kerugian yang nyata.” [An-Nisâ’/4:118-119]

Mencukur jenggot termasuk perilaku merubah apa yang ditetapkan oleh ajaran Islam.

Kedua, Melanggar perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَنْـهِكُوْا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوْا اللِّحَى

Cukurlah (guntinglah/rapikanlah) kumis dan peliharalah jenggot.[22]

Kita mengetahui bahwa perintah adalah wajib. Perintah wajib ini tidak bisa dipalingkan kepada tidak wajib kecuali ada qarînah (indikator) yang menegaskan ketidakwajibannya. Qarînah di sini justeru menguatkan kewajiban, yaitu sebagaimana yang ada pada point ketiga dan keempat berikut ini.

Ketiga, Menyerupai orang kafir.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

جُزُّوْا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوْا اللِّحَى ، خَالِفُوْا الْـمَجُوْسَ.

Cukurlah (guntinglah/rapikanlah) kumis dan peliharalah jenggot. Bedakanlah diri kalian dengan orang-orang Majusi.[23]

Keempat, Menyerupai kaum wanita.

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْمُتَشَّبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.[24]

Oleh karena itu, laki-laki yang mencukur jenggotnya telah terbukti berusaha menyerupai wanita.”[25]

an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para Ulama menyebutkan sepuluh perkara yang terlarang berkaitan dengan hukum jenggot :

  1. Menyemir jenggot dengan warna hitam, bukan dengan maksud berjihad.
  2. Menyemir jenggot dengan warna kuning karena ingin disebut orang shalih, bukan karena ingin mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
  3. Memutihkannya dengan belerang atau zat pemutih lainnya karena ingin terlihat lebih tua, agar dirinya diangkat menjadi pemimpin, ingin dihormati orang lain, atau ingin memberi kesan bahwa ia adalah sesepuh.
  4. Mencabut atau mencukur jenggot yang mulai tumbuh karena ingin terlihat awet muda atau ingin terlihat lebih tampan.
  5. Mencabut uban yang tumbuh di jenggot.
  6. Menyusun jenggot menjadi ikatan di atas ikatan agar dinilai bagus oleh kaum wanita dan lainnya.
  7. Menambah atau mencukur jambang, atau mencukur sebagian jambang, ketika mencukur kepala, mencabut rambut yang tumbuh di bawah bibir, dan lain-lain.
  8. Menyisir jenggot dengan gaya sisiran terkini untuk menarik perhatian orang banyak.
  9. Membiarkannya acak-acakan dan kurang memperhatikan jenggotnya agar dianggap sebagai orang zuhud.
  10. Memperhatikan jenggot yang hitam dan putih dengan perasaan kagum terhadap diri sendiri dan sombong, memamerkan kepada para pemuda, sekaligus membanggakannya di hadapan orang-orang tua dan anak-anak muda.
  11. Mengikat atau mengepang jenggot.
  12. Mencukur jenggot. Kecuali jika jenggot tumbuh pada wanita, maka dia boleh mencukurnya. Wallahu a’lam.[26]

4. Bersiwak
Bersiwak dapat membersihkan mulut. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اَلسِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ.

Siwak dapat membersihkan mulut dan sangat diridhai oleh Allâh.[27]

Karena itulah, siwak dianjurkan pada setiap waktu, dan lebih ditekankan pada waktu wudhu, shalat, bangun dari tidur, ketika bau mulut sudah berubah, ketika warna gigi berubah kekuningan, dan lainnya.

5. Istinsyâq dengan air
Istinsyâq merupakan salah satu amalan dalam berwudhu’, tetapi dilakukan ketika wudhu’ saja. Istinsyâq dan istintsâr adalah tata cara membersihkan atau menyucikan rongga hidung dari berbagai kotoran yang menempel di dalamnya.

Istinsyâq adalah memasukkan air ke dalam rongga hidung yang paling dalam dengan menarik nafas. Dianjurkan untuk melakukannya dengan sungguh-sungguh kecuali jika seseorang sedang berpuasa. Sedangkan istintsâr adalah adalah mengeluarkan air dari dalam rongga hidung setelah melakukan istinsyaaq.

6. Memotong kuku
Maksud memotong kuku adalah membuang kuku yang panjangnya sudah melebihi ujung jari.Sebab, kotoran-kotoran sering mengumpul pada ujung kuku tersebut sehingga terlihat jorok.[28]

an-Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa disunnahkan dalam memotong kuku dengan memulainya dari kuku jari tangan baru kemudian kuku jari kaki.[29]

Sebagian orang menyelisihi sunnah ini dengan membiarkan kukunya memanjang hingga kotoran berkumpul pada ujung kukunya mirip dengan cakar-cakar hewan buas. Tentunya ini suatu hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang Muslim. Membiarkan kuku panjang banyak dilakukan oleh kaum wanita agar kukunya bisa dipakaikan kutek dengan maksud untuk kecantikan. Perbuatan ini bertentangan dengan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

7. Menyela jari-jemari
an-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun menyela jari jemari merupakan sunnah tersendiri, bukan khusus ketika berwudhu’ saja.”

Para Ulama berkata, “Hukum menyela jemari dikiaskan dengan setiap tempat berkumpulnya kotoran, seperti lubang dan daun telinga, yang dapat dibersihkan dengan cara mengusapnya. Sebab, terkadang kotoran tersebut dapat mengganggu pendengaran.Demikian juga halnya dengan kotoran yang berkumpul di tempat-tempat lain pada anggota badan, baik berupa keringat, debu, dan lain-lain.Wallahu a’lam.”[30]

8. Mencabut bulu ketiak
Permbersihan bulu ketiak boleh dilakukan dengan cara mencabut, mencukur, atau dengan cara apa saja yang dapat menghilangkannya, sebab ketiak merupakan sumber bau badan yang tidak sedap. Hanya saja, dengan cara mencabut akan menghasilkan beberapa faedah yang tidak didapati jika dilakukan dengan cara mencukurnya. Di antara faidah tersebut adalah dapat melemahkan akar bulu ketiak dan dapat mengurangi bau badan. Adapun jika dilakukan dengan cara mencukur, maka itu dapat memperkuat akar dan membuatnya lebih lebat, sehingga bau tak sedap pun akan bertambah. Oleh karena itu, mencabut bulu ketiak lebih utama daripada mencukurnya, kecuali jika ia tidak sanggup menahan sakit.

Dalam memulai mencabut bulu ketiak, disunnahkan memulai dengan yang sebelah kanan, sedangkan cara membersihkannya dengan tangan kiri. Apabila ada yang sanggup menghilangkan bulu ketiak kiri dengan jari kirinya, maka itu lebih baik.Jika tidak sanggup, maka melakukannya dengan jari kanan.[31]

9. Mencukur bulu kemaluan
an-Nawawi rahimahullah berkata, “Diriwayatkan dari Abul ‘Abbas bin Suraij: Termasuk juga rambut yang tumbuh di sekitar anus.” Dengan demikian, disunnahkan mencukur pada sekitar kemaluan dan anus. Adapun waktunya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing dan panjang pendeknya rambut tersebut. Jika sudah panjang, maka harus dicukur. Kaidah ini juga dipakai dalam merapikan kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.”[32]

10. Istinja’
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, kata intiqâsh ditafsirkan oleh Waki’ dengan istinja, yaitu mencuci kemaluan dan anus setelah buang hajat.

Ini menunjukkan bahwa agama Islam memberi dorongan kepada kaum Muslimin agar tetap menjaga kebersihan dan menebarkan aroma wangi.Ada juga yang berpendapat bahwa maksud dari kata intiqâsh adalah memercikkan sedikit air kearah kemaluan seusai mengambil wudhu’. Wallahu a’lam.

11. Berkumur-kumur
Berkumur-kumur juga termasuk salah satu amalan wudhu’ walaupun tidak khusus dilakukan pada waktu wudhu’. Berkumur-kumur adalah memasukkan air ke dalam rongga mulut, diputar-putar (dalam mulut), lalu disemburkan keluar atau mengeluarkan kembali dari mulut. Disunnahkan untuk bersungguh-sungguh ketika berkumur-kumur kecuali jika sedang berpuasa.Kumur-kumur berfungsi untuk mewangikan bau mulut dengan air, serta membuang sisa makanan yang masih menempel, yang dapat menimbulkan bau mulut tidak sedap.

 FAWAA-ID

  1. Agama Islam adalah agama fitrah.
  2. Agama Islam tidak akan bertentangan dengan fitrah dan akal yang sehat.
  3. Allâh Azza wa Jalla menciptakan hamba-hamba-Nya di atas fitrah, mencintai kebenaran, dan membenci kejelekan.
  4. Fitrah ada dua; yaitu (1) membersihkan hati dan jiwa dengan iman kepada Allâh Azza wa Jalla dan (2) membersihkan lahiriyyah serta menjauhkan kekotoran.
  5. Islam adalah agama yang indah dan
  6. Agama Islam sangat memperhatikan kebersihan lahir maupun batin.
  7. Islam mendorong para pemeluknya untuk memperhatikan kebersihan tubuhnya dan menghilangkan kotoran-kotoran yang terdapat pada dirinya.
  8. Orang Islam wajib berkhitan dan khitan merupakan syi’ar Islam yang agung.
  9. Wajib membiarkan jenggot tumbuh dan ini merupakan fitrah bagi laki-laki.
  10. Mencukur jenggot dan menggunting ujungnya adalah menyelisihi sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
  11. Barangsiapa mencukur jenggotnya maka dia berdosa.
  12. Mencukur jenggot banyak kerusakannya, di antaranya menyelisihi perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , menyerupai orang-orang kafir, menyerupai kaum perempuan, dan lainnya.
  13. Diperintahkan untuk merapikan kumis, mencabut bulu ketiak, menggunting kuku, dan mencukur bulu kemaluan.
  14. Dianjurkan berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung, dan membersihkan jari-jari.
  15. Dianjurkan bersiwak ketika wudhu’, ketika shalat, dan juga pada setiap waktu.
  16. Wajib ber-istinja’ (bercebok) bila buang air besar dan kecil.
  17. Bersuci adalah wajib dan bagian dari iman.

MARAAJI’:

  1. Kutubus sittah dan Musnad Imam Ahmad.
  2. Syarh Shahîh Muslim, Imam an-Nawawi, cet. Darul Fikr.
  3. Fat-hul Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, cet. Darul Fikr.
  4. Tuhfatul Maudûd bi Ahkâmil Maulûd, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, tahqiqdan takhrij Syaikh Salim al-Hilali.
  5. Bahjatu Qulûbil Abrâr fii Syarhi Jawâmi’il Akhbâr, Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, tahqiq Abul Harits Nadir bin Sa’ad al-Mubarak, c Daar Ibnu Hazm.
  6. Syarh Riyâdhis Shâlihîn, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
  7. Âdâbuz Zifâf fis Sunnah al-Muthahharah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
  8. Irwâ-ul Ghalîl fii Takhrîji Ahâdîts Manâris Sabîl, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
  9. Mausû’ah al-Âdâb al-Islâmiyyah, ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada,cet. III, Daar Thaybah, th. 1428 H.
  10. Panduan keluarga Sakinah, IX, Pustaka Imam Syafi’i Jakarta.
  11. an-Nihâyah fii Gharîbil Hadîts wal Atsar, Ibnul Atsir.
  12. al-Mu’jamul Wasîth, Maktabah al-Islamiyyah.
  13. Lisânul ‘Arab, Ibnu Manzhur.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 5889, 5891, 6297), Muslim (no. 257), dan Ahmad (II/239, 410).
[2] an-Nihâyah fii Gharîbil Hadîts wal Atsar (hlm. 639).
[3] al-Mu’jamul Wasîth (hlm. 694), cet. Al-maktabah al-Islamiyyah.
[4]  Lisânul ‘Arab (X/286).
[5] Tuhfatul Maudûd bi Ahkâmil Maulûd (hlm. 269), karya Ibnu Qayyim, tahqiq dan takhrij Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly.
[6] Tuhfatul Maudûd bi Ahkâmil Maulûd (hlm. 257-258) dan Fat-hul Bâri (X/340).
[7]  Shahih: HR. al-Bukhâri (no. 1358, 1359, 1385, 4775), Muslim (no. 2658 [22]), Abu Dâwud (no. 4714), Ahmad (II/233, 275, 315, 346, 393), Malik dalam al-Muwaththa’ (I/207, no. 52), at-Tirmidzi (no. 2138).
Dalam lafazh Abu Dawud, at-Tirmidzi, Mâlik, dan sebagian riwayat al-Bukhâri dan Ahmad, disebutkan: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.” [Lihat Irwâ-ul Ghalîl (V/50) dan Shahîhul Jâmi’ (no. 5784) karya Syaikh al-Albani rahimahullah].
[8]  Shahih: HR. Muslim (no. 223).
[9]  Bahjatu Qulûbil Abrâr (hlm. 127- 131), dengan diringkas dan Tauhid Jalan Kebahagiaan, Keselamatan, dan Keberkahan Dunia Akhirat, cet. V, oleh penulis, Penerbit Media Tarbiyah, hlm. 122-124.
[10]  Shahih:HR. al-Bukhâri (no. 5891, 6297), Muslim (no. 257), Abu Dawud (no. 4198), at-Tirmidzi (no. 2756), an-Nasa-i (I/13-14), Ibnu Mâjah (no. 292) dan Ahmad (II/229, 239, 410, 489), lafazh ini milik Ahmad, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[11]  Fat-hul Bâri (X/339).
[12]  Tuhfatul Maudûd (hlm. 278-279), Fat-hul Bâri (X/342), al-Majmû’ Syarhul Muhadzdzab (I/300).
[13] al-Mughni ma’a asy-Syarhil Kabîr (I/107) karya Ibnu Qudamah.
[14]  Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ (I/164).
[15]  Lihat pembahasan ini secara rinci dalam kitab Fat-hul Baari (X/346-348) dan Syarhun Nawawi ‘ala Shahîh Muslim (III/151).
[16]  Shahih: HR. Muslim (no. 258), dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu.
[17] Syarh Shahîh Muslim, karya an-Nawawi (III/149).
[18] Shahih:HR. Muslim (no. 260 (55)) dan Abu ‘Awanah (I/188), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[19] Bahjatu Qulûbil Abrâr (hlm. 129).
[20]  Shahih: HR. al-Bukhâri (no. 5492) dan Muslim (no. 259 [54]), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lafazh ini milik al-Bukhâri.
[21]  Syarh Riyâdhish Shâlihîn (V/235), karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
[22]  Shahih: HR. al-Bukhâri (no. 5893) dan Muslim (no. 259 (52)), dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma.
[23]  Shahih:HR. Muslim (no. 260 (55)) dan Abu ‘Awanah (I/188), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
FAEDAH: Kalimat  yang ada pada dua hadits di atas yaitu ((أَنْهِكُوْا)) dan ((جُزُّوْا)) artinya cukurlah kumis yang melebihi bibir, bukan mencukur kumis semuanya karena mencukur kumis semuanya menyalahi Sunnah yang telah dipraktekkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Imam Mâlik rahimahullah mengatakan “bid’ah” bagi orang  yang mencukur kumis semuanya. (lihat Âdâbuz Zifâf, hlm. 209). Karena itu kedua kalimat tersebut saya artikan dengan: “guntinglah kumis” atau “rapikanlah kumis” supaya tidak dicukur habis. Wallaahu a’lam.
[24] Shahih: HR. al-Bukhâri (no. 5885, 6834), at-Tirmidzi (no. 2784) dan lainnya, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma.
[25]  Âdâbuz Zifâf (hlm. 207-210).
[26] Shahîh Muslim bisyarh an-Nawawi (I/149).
[27] Shahih: HR. al-Bukhâri (IV/137) secara mu’allaq, Ahmad (VI/47, 62, 124, 238), an-Nasa-i (I/10), asy-Syafi’i dalam al-Umm (I/52), ad-Darimi (I/174), Ibnu Hibban (no. 143-al-Mawârid), dan al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubrâ (I/34). Lihat Irwâ-ul Ghalîl (no. 66).
[28] Fat-hul Bâri (X/344-345).
[29] Syarh Shahîh Muslim (III/190).
[30] Syarh Shahîh Muslim (III/150)
[31] Fat-hul Bâri (X/344).
[32] Syarh Shahîh Muslim (III/148-149).

Read more https://almanhaj.or.id/12833-sebelas-hal-yang-termasuk-fithrah.html

Sejarah Asyuro dan Tanah Karbala

Asyura dan Tanah Karbala

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Tanggal 10 Muharam atau hari asyura menjadi hari istimewa bagi beberapa agama dan sekte kepercayaan. Bagi orang yahudi, Asyura menjadi hari istimewa, karena pada tanggal 10 Muharam, Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لأَصْحَابِهِ «أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ ، فَصُومُوا».

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa Asyura’. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah.” (HR. Bukhari)

Bagi kaum muslimin, Asyura menjadi hari istimewa untuk puasa, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan puasa pada hari ini bisa menghapuskan dosa setahun yang telah lewat.

Dari Abu Qatadah Al Anshari radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

سئل عن صوم يوم عاشوراء فقال كفارة سنة

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyura’, kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Asyura dan Meninggalnya Husain

Setelah Yazid dibaiat sebagai amirul mukminin di Syam (wilayah sekitar Damaskus, Suriah, Lebanon, dan Palestina), Husain diajak oleh kelompok Yazid untuk turut membaiat Yazid. Namun Husain menolak, dan beliau segera meninggalkan Madinah menuju Mekah. Ketika Penduduk Kufah (Irak) yang mendengar sikap Husain terhadap Yazid, mereka langsung mengirim berbagai surat kepada Husain. ada lebih dari 500 surat yang diterima Husain. Inti dari isi surat itu ada 3 hal,

  1. Penduduk Kufah tidak membaiat Yazid
  2. Penduduk Kufah hanya mau taat jika Husain dan keluarga Ali sebagai khalifah
  3. Mengundang Husain untuk datang ke Kufah agar bisa dibaiat

Untuk menyelidiki kebenaran ini, Husain mengirim Muslim bin Aqil (sepupu Husain) agar memeriksa keadaan di Kufah yang sebenarnya. Sesampainya Muslim bin Aqil tiba di Kufah, dia singgah di rumah Hani bin Urwah. Di rumah ini, banyak penduduk Kufah yang membaiat Husain melalui perwakilan Muslim bin Aqil. Merasa bahwa penduduk Kufah telah loyal terhadap Husain, Muslim mengirim surat kepada Husain, agar segera datang ke Kufah, karena semua telah disiapkan.

Berita tentang penduduk Kufah didengar oleh Yazid. Ketika itu, Kufah termasuk daerah kekuasaan bani Umaiyah dengan gubernur: Nu’ban bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun karena Nu’man tidak perhatian dengan kejadian baiat Husain di Kufah, beliau dinon-aktifkan dan wiliyah Kufah diserahkan kepada Ubaidillah bin Ziyad, yang ketika itu menjadi gubernur Bashrah. Sehingga Ubaidillah memegang kekuasaan dua wilayah, Bashrah dan Kufah.

Ubaidullah menemui Hani’ bin Urwah dan menanyakannya tentang gejolak di Kufah. Ubaidullah ingin mendengar sendiri penjelasan langsung dari Hani’ bin Urwah. Namun Hani’ tidak mau mengaku, hingga dia dipenjara. Mendengar kabar bahwa Ubaidullah memenjarakan Hani’ bin Urwah, Muslim bin Aqil datang bersama 4000 orang syiah (pembela) Husain yang membaiatnya dan mengepung istana Ubaidullah bin Ziyad. Ini terjadi siang hari.

Ubaidullah bin Ziyad merespon pengepungan Muslim bin Aqil dengan mengancam akan mendatangkan sejumlah pasukan dari Syam. Ternyata gertakan Ubaidullah membuat takut Syiah (pembela) Husein ini. Mereka pun berkhianat dan berlari meninggalkan Muslim bin Aqil hingga tersisa 30 orang saja yang bersama Muslim bin Aqil, dan belumlah matahari terbenam, hingga hanya tersisa Muslim bin Aqil seorang diri.

Anda bisa menilai, bagaimana karakter penduduk Kufah yang menjadi syiah (pembela) Husain dan Ali bin Abi Thalib.

Muslim pun ditangkap dan Ubaidullah memerintahkan agar dia dibunuh. Sebelum dieksekusi, Muslim meminta izin untuk mengirim surat kepada Husein, keinginan terakhirnya dikabulkan oleh Ubaidullah bin Ziyad. Isi surat Muslim kepada Husein adalah “Pergilah, pulanglah kepada keluargamu! Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya penduduk Kufah telah berkhianat kepadamu dan juga kepadaku. Orang-orang pendusta itu tidak memiliki akal”. Muslim bin Aqil kemudian dibunuh, tepatnya tanggal 9 Dzulhijjah, hari Arafah.

Husein berangkat dari Mekah menuju Kufah di tanggal 8 Dzulhijah, hari tarwiyah. Banyak para sahabat Nabi menasihatinya agar tidak pergi ke Kufah. Berikut beberepa nasehat mereka kepada Husain,

Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu menemui Husain,

Sesungguhnya aku adalah seorang penasihat untukmu, dan aku sangat menyayangimu. Telah sampai berita bahwa orang-orang yang mengaku sebagai Syiahmu (pembelamu) di Kufah menulis surat kepadamu. Mereka mengajakmu untuk bergabung bersama mereka. Mohon jangan engkau pergi bergabung bersama mereka karena aku mendengar ayahmu –Ali bin Abi Thalib- mengatakan tentang penduduk Kufah, ‘Demi Allah, aku bosan dan benci kepada mereka, demikian juga mereka bosan dan benci kepadaku. Mereka tidak memiliki sikap memenuhi janji sedikit pun.”

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu menemui Husain,

Aku hendak menyampaikan kepadamu beberapa kalimat. Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian memberikan dua pilihan kepada beliau antara dunia dan akhirat, maka beliau memilih akhirat dan tidak mengiginkan dunia. Engkau adalah darah dagingnya, demi Allah tidaklah Allah memberikan atau menghindarkan kalian (ahlul bait) dari suatu hal, kecuali hal itu adalah yang terbaik untuk kalian”.

Husein tetap enggan membatalkan keberangkatannya. Ibnu Umar pun menangis, lalu mengatakan, “Aku titipkan engkau kepada Allah agar tidak dibunuh”.

Singkat cerita Husein menginjakkan kakinya di daerah Karbala bersama 73 orang yang mendampinginya. Kemudian tibalah 4000 pasukan yang dikirim oleh Ubaidullah bin Ziyad di bawah pimpinan Umar bin Saad. Husein bertanya, “Apa nama tempat ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Kemudian Husein menanggapi, “Karbala: Karbun wa Balaa’.” Karbun artinya bencana dan Balaa’ artinya musibah.

Anda bisa lihat, bagaimana Husain sama sekali tidak memberikan pujian terhadap Karbala’. Justru beliau memberikan nilai buruk, dari nama Karbala. Berbeda dengan orang syiah. Mereka memuji habis Karbala’ dan menyebutnya sebagai tanah suci.

Melihat pasukan dalam jumlah yang sangat besar, Husein radhiallahu ‘anhu menyadari tidak ada peluang baginya. Lalu dia menawarkan 3 hal, “Aku ada 3 pilihan, (1) kalian mengawal (menjamin keamananku) pulang atau (2) kalian biarkan aku pergi menghadap Yazid di Syam untuk membaiatnya, atau (3) Aku pergi ke daerah perbatasan dan ikut bergabung bersama kaum muslimin dalam jihad melawan daerah kafir.

Ubaidullah bin Ziyad menyetujui tawaran Husain. Namun tiba-tiba sosok jahat Syamr bin Dzil Jausyan memprotes. “Jangan. jangan kabulkan tawarannya, sampai dia menjadi tawananmu, wahai Ubaid.” Syamr masih termasuk  kerabat dekat Ubaidillah.

Mendengar usulan ini, Ubaidillah merasa ada unsur bangga. Diapun menyetujuinya. Namun Husein menolak untuk menjadi tawanan Ubaidullah.

Mulailah terjadi ketegangan antara pasukan Husain yang berjumlah 73 orang dengan pasukan Irak 4000 orang. Husain pun berceramah mengingatkan status dirinya dan kedekatannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga sekitar 30 orang pasukan Irak dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi membelot dan bergabung dengan Husein.

Namun apa daya 100 lawan 4000. Peperangan yang tidak imbang itu menewaskan semua orang yang mendukung Husein, hingga tersisa Husein seorang diri. Orang-orang Kufah merasa takut dan segan untuk membunuhnya. Masih tersisa sedikit rasa hormat mereka kepada darah keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tiba-tiba datang Syamr bin Dzil Jausyan –semoga Allah menghinakannya – meneriakkan, ”Apa yang kalian lakukan, segera serang dia.” Syamr pun melemparkan panah lalu mengenai Husein dan ditambah tombah Sinan bin Anas yang mengenai dada Husain. Beliaupun terjatuh lalu orang-orang mengeroyoknya, Husein akhirnya mati syahid.

Ini terjadi di hari jumat, 10 Muharam, hari Asyura.

Kisah ini diceritakan dari berbegai sumber oleh Dr. Utsman al-Khamis dalam buku beliau: Huqbah min at-Tarikh hlm. 140 – 147.

Syiah dan Nashibah

Wafatnya Husain radhiyallahu ‘anhu, melahirkan dua kelompok sesat. Dan demikianlah setan, selalu mengajak manusia untuk bersikap ekstrim dalam setiap kejadian.

Kelompok pertama, mereka meratapi kematian Husain di hari Asyura. Mereka mengenang kematian Husain dengan memukul-mukul diri, bahkan melukai tubuhnya sendiri. Yang lebih parah, mereka menjadikannya darah Husain sebagai alasan untuk mencela setiap orang yang tidak mengikuti ritual mereka. Hingga mereka mencela para sahabat, mengkafirkan para sahabat dan mencatut nama orang yang sama sekali tidak memiliki kesalahan dalam peristiwa itu.

Untuk membumikan aqidah ini, mereka membuat ribuan hadis palsu tentang keutamaan Karbala dan keutamaan meratap di hari Asyura.

Semua orang tahu, kelompok pertama ini adalah kelompok syiah. Anda bisa melihat ritual berdarah yang mereka banggakan ketika asyura di:

Kelompok kedua adalah kelompok an-Nashibah, kelompok yang menampakkan kegembiraan dan suka cita. Mereka menjadikan asyura sebagai hari raya, dengan menganjurkan kepada kaum muslimin untuk memberikan banyak kelonggaran di hari Asyura. Turunan dari anjuran ini adalah munculnya keyakinan hari menggembirakan anak yatim, hari keluarga, dst.

Syaikhul Islam menjelaskan,

وكانت الكوفة بها قوم من الشيعة المنتصرين للحسين وكان رأسهم المختار بن أبي عبيد الكذاب وقوم من الناصبة المبغضين لعلي رضي الله عنه وأولاده ومنهم الحجاج بن يوسف الثقفي وقد ثبت في الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال سيكون في ثقيف كذاب ومبير فكان ذلك الشيعي هو الكذاب وهذا الناصبي هو المبير فأحدث أولئك الحزن وأحدث هؤلاء السرور ورووا أنه من وسع على أهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته

Kufah merupakan daerah kaum syiah syiah yang membela Husain. Pemimpin mereka adalah Mukhtar bin Abi Ubaid al-Kadzab (sang pendusta). Kufah juga tempat kelompok an-Nashibah, yang membenci Ali radhiyallahu ‘anhu dan keturunannya. Pemimpin mereka adalah al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Dinyatakan dalam hadis yang shahih, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

سيكون في ثقيف كذاب ومبير

“Akan muncul dari Bani Tsaqif, seorang pendusta dan seorang perusak.”

Orang syiah adalah manusia pendusta, dan sekte an-Nashibi adalah si perusak. Yang satu menampakkan kesedihan, sementara satunya menampakkan kegembiraan. Kemudian mereka membuat riwayat (dusta), ”Siapa yang memberikan kelonggaran kepada keluarga pada hari Asyura maka Allah akan memberikan kelonggaran nafkah kepadanya sepanjang tahun.”

Syaikhul Islam melanjutkan pembahasan mengenai aqidah an-Nashibah,

قال حرب الكرماني سألت أحمد بن حنبل عن هذا الحديث فقال لا أصل له وليس له إسناد يثبت … ورووا أنه من اكتحل يوم عاشوراء لم يرمد ذلك العام ومن اغتسل يوم عاشوراء لم يمرض ذلك العام فصار أقوام يستحبون يوم عاشوراء الاكتحال والاغتسال والتوسعة على العيال وإحداث أطعمة غير معتادة وهذه بدعة أصلها من المتعصبين بالباطل على الحسين رضي الله عنه وتلك بدعة أصلها من المتعصبين بالباطل له وكل بدعة ضلالة ولم يستحب أحد من أئمة المسلمين الأربعة وغيرهم لا هذا ولا هذا

Al-Harb al-Karmani mengatakan, “Aku bertanya kepada Ahmad bin Hambal tentang hadis: ‘Siapa yang memberikan kelonggaran kepada keluarga pada hari Asyura’ beliau mengatakan, ’La ashla lahu’ hadis tidak ada sanadnya dan tidak ada sanad yang terpercaya. Kaum nashibah juga membawakan riwayat hadis, ”Siapa yang memakai celak pada hari Asyura, maka dia tidak akan sakit mata selama tahun itu. Siapa yang mandi besar pada hari asyura maka dia tidak sakit selama setahun itu.” sehingga masyarakat menganjurkan pada hari asyura untuk memakai celak, mandi, dan memberikan kelonggaran kepada keluarga, dan menghidangkan makanan lebih, tidak seperti biasanya.

Ini semua adalah bid’ah, awalnya dari kelompok ekstrim yang membenci Husain radhiyallahu ‘anhu. Sementara memukul-mukul diri adalah bid’ah yang asalnya dari kelompok ekstrim yang mendukung Husain. dan semua bid’ah adalah sesat. Tidak ada satupun ulama kaum muslimin dari empat madzhab maupun lainnya yang menganjurkannya. Baik kelompok pertama maupun kedua.

[Minhaj as-Sunah an-Nabawiyah, 4/276 – 277].

Sebagai muslim yang baik, kita menyadari, kematian Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam kondisi syahadah (mati syahid) termasuk musibah. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Namun bersikap ekstrim, seperti syiah yang meratap dan mengkafirkan banyak sahabat atas nama Husain, maupun sekte nashibah yang gembira dengan wafatnya Husain, selamanya tidak pernah kita ridhai dan tidak sejalan dengan islam.

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/21042-asyura-dan-tanah-karbala.html